Senat AS pilih Warsh, arah baru The Fed jadi sorotan
Kamis, 14 Mei 2026

JAKARTA - Ketua baru bank sentral Amerika Serikat akhirnya resmi ditetapkan. Senat AS mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve melalui pemungutan suara paling ketat dalam sejarah, membuka babak baru yang sarat kontroversi sekaligus menguji independensi bank sentral di bawah tekanan politik Presiden Donald Trump.
Seperti dikutip Bloomberg, Warsh lolos dengan dukungan 54 suara berbanding 45 dalam voting Senat pada Rabu waktu setempat. Margin tipis itu menjadi rekor terendah untuk konfirmasi pimpinan The Fed, melampaui perolehan Janet Yellen yang meraih dukungan 56-26 pada 2014. Hanya satu senator Demokrat, John Fetterman dari Pennsylvania, yang membelot mendukung Warsh.
Voting berlangsung hanya beberapa jam setelah laporan inflasi grosir AS memicu kekhawatiran baru soal lonjakan harga. Indeks harga produsen April tercatat melonjak 6% secara tahunan, di atas seluruh proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg. Inflasi inti yang mengecualikan komponen pangan dan energi juga naik 5,2%, menandakan lonjakan harga energi akibat perang Iran mulai menjalar ke sektor lain.
Situasi itu memperbesar tantangan bagi Warsh yang akan menggantikan Jerome Powell mulai Jumat, saat masa jabatan Powell sebagai ketua The Fed resmi berakhir. Pasar kini menyoroti apakah Warsh mampu menjaga tradisi independensi Federal Reserve di tengah tekanan Trump yang secara terbuka menuntut penurunan suku bunga secepat mungkin.
Dalam sidang konfirmasi, Warsh menegaskan kebijakan moneter bank sentral akan tetap “sangat mandiri” di bawah kepemimpinannya. Namun Trump sebelumnya berulang kali menyerang Powell karena dinilai lambat memangkas suku bunga dan kini secara terang-terangan berharap Warsh segera menurunkan biaya pinjaman.
“Sekarang kita sedang membahas implementasinya,” kata Warsh saat membahas arah kebijakan moneternya di hadapan Senat.
Sejumlah pejabat The Fed mulai mendorong bank sentral membuka kemungkinan kenaikan maupun penurunan suku bunga ke depan. Kondisi itu diperkirakan memicu perlawanan internal bila Warsh memaksakan pemangkasan suku bunga tanpa dukungan mayoritas pejabat moneter.
Selain soal suku bunga, Warsh juga menyoroti neraca The Fed yang mencapai US$6,7 triliun. Ia menyatakan ingin mengecilkan ukuran neraca secara bertahap dan menilai pemangkasan suku bunga lebih adil dibanding ekspansi neraca karena manfaatnya lebih luas bagi masyarakat.
Warsh turut mengkritik kinerja The Fed pada era Presiden Joe Biden. Menurutnya, bank sentral gagal fokus menjalankan mandat utama dalam mengendalikan inflasi.
Konfirmasi Warsh sebelumnya sempat tertahan setelah Senator Republik Thom Tillis memblokir nominasi pejabat The Fed. Hambatan itu berakhir usai Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan pidana terhadap Powell terkait pembengkakan biaya renovasi gedung Federal Reserve.
Tillis, Powell, dan sejumlah senator Demokrat menilai investigasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump menekan Powell agar lebih agresif memangkas suku bunga. Demokrat juga mengecam langkah Trump yang berupaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook karena dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap independensi bank sentral AS.
Powell sendiri pada April lalu menyatakan tetap akan bertahan sebagai anggota dewan gubernur The Fed setelah lengser dari kursi ketua, meski akan menjaga “profil rendah.” Ia menegaskan keputusan itu diambil karena ancaman investigasi pidana terhadap dirinya dan Federal Reserve dinilai dapat mengganggu independensi bank sentral AS.(DH)