Lonjakan inflasi AS seret harga emas dunia ke zona merah
Kamis, 14 Mei 2026

JAKARTA - Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu waktu setempat, memperpanjang pelemahan dua hari beruntun seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi Amerika Serikat yang masih membara akibat perang Iran. Kondisi itu membuat pelaku pasar semakin pesimistis terhadap peluang penurunan suku bunga The Federal Reserve tahun ini.
Seperti dikutip Reuters, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$4.686,35 per ons pada pukul 13.59 EDT. Sementara kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik tipis 0,4% ke level US$4.706,70 per ons.
Tekanan terhadap logam mulia muncul setelah data terbaru menunjukkan inflasi produsen AS melonjak lebih tinggi dari perkiraan pada April, mencatat kenaikan terbesar sejak awal 2022. Lonjakan itu memperkuat sinyal bahwa tekanan harga masih meningkat di tengah gejolak perang Iran dan kenaikan harga energi global.
“Inflasi tetap tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam jangka waktu lebih lama semakin menguat, dan hal itu telah menekan harga emas dalam dua hari terakhir,” kata Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.
Selain inflasi produsen, data inflasi konsumen AS yang dirilis Rabu juga menunjukkan kenaikan lanjutan sepanjang April. Laju tahunan inflasi bahkan mencatat lonjakan terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Situasi itu membuat pasar semakin yakin The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Bank sentral AS bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga AS sepanjang tahun ini.
Pasar juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Trump datang ke China dengan misi menjaga gencatan dagang rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia sekaligus memperkuat dukungan publik yang tertekan akibat perang Iran.
Di sisi lain, India menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15% dari sebelumnya 6%. Kebijakan itu ditempuh untuk membatasi pembelian logam mulia dari luar negeri dan menjaga cadangan devisa negara. India sendiri merupakan konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia.
“Kabar tentang kenaikan bea impor di India telah menimbulkan kekhawatiran terkait permintaan dan dapat menjadi hambatan jangka panjang,” ujar Grant. Berbeda dengan emas, harga logam mulia lainnya justru menguat. Perak spot melonjak 1,6% menjadi US$87,88 per ons setelah menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Platinum naik 1,6% ke US$2.159,58 per ons, level tertinggi sejak 12 Maret. Sementara palladium menguat 1,2% menjadi US$1.508,39 per ons.(DH)