China pamer robot mecha, apa respona Elon Musk

Kamis, 14 Mei 2026

image

JAKARTA - Perusahaan robotik asal China, Unitree Robotics, memperkenalkan GD01, robot mecha berawak pertama yang diklaim siap diproduksi massal. Kemunculan robot setinggi 2,7 meter itu langsung memicu perbincangan luas soal persaingan teknologi robotika antara China dan Amerika Serikat.

Seperti dikutip Globaltimes, video demonstrasi GD01 menyebar cepat di media sosial China maupun internasional. Robot tersebut mampu berubah dari mode humanoid menjadi quadruped sambil membawa pengendara di dalamnya. Unitree membanderol mecha itu mulai 3,9 juta yuan atau sekitar US$650 ribu.

Sorotan semakin besar setelah CEO Tesla Elon Musk merespons video tersebut dengan komentar singkat, “cool” di platform X.

Reaksi publik di media sosial langsung bermunculan. Seorang pengguna YouTube menulis, “AS membuat robot-robot keren di film-film Hollywood, sementara China membuat robot-robot praktis di kehidupan nyata.”

Jurnalis Amerika Serikat yang berbasis di China, JasonSmith, juga menilai China kini unggul jauh dalam pengembangan robotika. “China sedang membangun segala sesuatu yang kita impikan saat masih kecil” dan “China jauh, jauh, jauh lebih maju daripada negara-negara lain di dunia,” tulisnya di X.

Di sisi lain, sejumlah pengguna media sosial AS mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap laju perkembangan teknologi China.

“Apakah Anda tidak khawatir dengan meningkatnya tekanan persaingan dari Tiongkok di bidang robotika dan otomatisasi? Mereka dapat memproduksi sistem ini dengan biaya sekitar 20% dari biaya di AS,” tulis seorang pengguna X asal Texas.

Analis teknologi menilai peluncuran GD01 menunjukkan perubahan besar dalam persaingan robotika global. China dinilai tidak lagi hanya kuat di robot industri dan perangkat otomatis sederhana, tetapi mulai masuk ke pengembangan mecha berawak berskala besar yang selama ini identik dengan fiksi ilmiah.

Vice President Technology and Strategy Research Institute, Chen Jing, mengatakan GD01 menandai keberhasilan China melewati fase penting dalam pengembangan embodied artificial intelligence atau AI berbasis tubuh fisik.

“Ini bukan lagi sekadar mesin prototipe yang terbatas di laboratorium, tetapi produk dengan label harga yang jelas dan peta jalan komersialisasi,” kata Chen kepada Global Times.

Menurut dia, robot masa depan kemungkinan tidak lagi hanya berbentuk humanoid, tetapi berkembang menjadi platform hibrida manusia-mesin dengan fungsi yang lebih luas.

Chen menyebut GD01 juga menandai perubahan fungsi robot dari sekadar alat menjadi platform mobilitas baru. “Dari segi budaya, ini melengkapi siklus bagi 'generasi fiksi ilmiah'. Dari segi industri, ini membuka pasar baru dan menciptakan momentum yang disruptif. Secara strategis, ini menantang klaim bahwa China hanya 'mengikuti'," ujarnya.

Laporan berbagai media internasional dalam beberapa tahun terakhir terus menyoroti kemajuan pesat China dalam sektor robot humanoid, AI, dan manufaktur robotika. Morgan Stanley bahkan menilai keunggulan awal China dalam robot humanoid dapat mendorong fase baru dominasi manufaktur dan ekspor global negara tersebut.

Media teknologi Wired menilai keunggulan Unitree lahir dari kemampuan memanfaatkan rantai pasok manufaktur China yang besar dan kompleks sehingga mampu memproduksi robot dengan biaya jauh lebih murah dibanding kompetitor AS.

“Perusahaan-perusahaan Tiongkok menguasai 90% pasar robot humanoid, mendominasi teknologi yang akan mengubah manufaktur dan tenaga kerja. Barat hampir tidak mampu bersaing,” tulis media Rest of the World dalam laporannya Februari lalu.

Elon Musk sendiri sebelumnya mengakui China menjadi ancaman terbesar bagi Tesla di sektor robotika dan AI. “China sangat mahir dalam AI, sangat mahir dalam manufaktur, dan pasti akan menjadi pesaing terberat bagi Tesla,” kata Musk dalam World Economic Forum Januari lalu.

Menurut laporan South China Morning Post, Tesla bahkan telah menggandeng ratusan pemasok komponen asal China untuk proyek robot humanoid Optimus sejak tiga tahun terakhir. Pengamat teknologi Ma Jihua mengatakan kekuatan utama China terletak pada rantai pasok industri yang lengkap, mulai dari motor performa tinggi, sensor, baterai, hingga material serat karbon.

“Selama ada kreativitas, China dapat menyediakan teknologi, komponen, dan kemampuan manufaktur yang dibutuhkan untuk mengubah ide menjadi kenyataan,” kata Ma. Data International Federation of Robotics menunjukkan 64% robot industri elektronik dunia kini dipasang di China, sementara produsen China memasok 59% kebutuhan sektor tersebut secara global.

Dalam industri logam dan mesin, pangsa pasar domestik perusahaan robot China bahkan mencapai 85%, memperlihatkan dominasi Beijing dalam rantai manufaktur robotika global. Laporan Rest of World juga mencatat tiga perusahaan non-China yang masuk daftar produsen robot humanoid terlaris dunia Figure AI, Agility Robotics, dan Tesla masing-masing hanya menjual sekitar 150 unit tahun lalu.

Sebaliknya, perusahaan China seperti Unitree dan Agibot disebut menjual robot humanoid dalam jumlah lebih besar dibanding target produksi Tesla sebanyak 5.000 unit pada 2025 yang akhirnya gagal tercapai.

Ma menilai AS masih unggul dalam pengembangan AI tingkat lanjut dan desain teknologi. Namun China dinilai lebih cepat dalam membawa produk dari tahap prototipe menuju produksi massal dan aplikasi industri nyata.

“Di Tiongkok, begitu suatu produk dikembangkan, perusahaan dengan cepat mulai mengeksplorasi aplikasi di dunia nyata. Setelah aplikasi ditemukan, produksi massal pun dilakukan, biaya turun dengan cepat, dan putaran iterasi baru dimulai,” ujarnya.

Menurut para analis, persaingan robotika AS-China kini tidak lagi sekadar soal kecerdasan buatan, tetapi juga soal siapa yang paling cepat mengintegrasikan AI ke perangkat fisik dan memproduksinya dalam skala besar dengan biaya rendah.(DH)