Asia geser Silicon Valley dalam ledakan bisnis AI global
Kamis, 14 Mei 2026

JAKARTA - Demam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mendorong Asia menjadi pusat baru pergerakan pasar teknologi global. Lonjakan permintaan chip AI mengangkat valuasi raksasa teknologi Asia, mendorong reli pasar saham Korea Selatan, hingga menghasilkan bonus ratusan ribu dolar bagi pekerja industri semikonduktor.
Seperti dikutip Reuters, tiga perusahaan paling bernilai di Asia saat ini seluruhnya berasal dari sektor chip, yakni Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC), Samsung Electronics, dan SK Hynix. Kinerja keuangan mereka yang melonjak tajam memperkuat posisi Asia sebagai tulang punggung rantai pasok AI dunia.
Pendapatan bisnis chip Samsung tercatat melonjak hampir 50 kali lipat pada kuartal terakhir. Sementara indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI, melesat dua kali lipat hanya dalam waktu sedikit lebih dari enam bulan.
Reli tersebut memicu gelombang pembelian besar-besaran dari investor ritel Korea Selatan yang dikenal dengan sebutan “semut”. Data menunjukkan pembelian saham menggunakan leverage oleh investor ritel Korea mencapai rekor 25 triliun won pada akhir April.
“Setelah reli saham semikonduktor, saham-saham terkait AI lainnya kini harus mengejar ketertinggalan,” kata pekerja kantoran asal Korea Selatan, Kwon Soon-kuk.
Investor global kini mulai melihat produsen chip Asia sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam ledakan AI dibanding perusahaan teknologi Silicon Valley yang justru menggelontorkan belanja besar untuk pengembangan AI.
Samsung, SK Hynix, dan TSMC menjadi pemasok utama bagi raksasa teknologi AS seperti Nvidia serta kelompok “Luar Biasa 7” yang mendominasi industri AI global.
“Ini adalah pasar penjual bagi pemasok AI,” kata Chairman Fubon Financial Holding fund arm, Alex Huang. Menurut dia, Nvidia saat ini lebih khawatir kekurangan kapasitas produksi dibanding persoalan harga chip.
“Alih-alih soal harga, yang dikhawatirkan Nvidia adalah gagal mengamankan kapasitas produksi,” ujarnya. Huang menilai Taiwan kini memiliki posisi tawar sangat kuat dalam industri AI global, terutama dalam penentuan harga dan distribusi pasokan chip.
Lonjakan permintaan AI juga membuat produsen chip Asia mulai menandatangani kontrak jangka panjang dengan pelanggan mereka. Investment Manager Jupiter Asset Management, Sam Konrad, mengatakan langkah tersebut menandakan siklus AI diperkirakan berlangsung lebih lama dari prediksi pasar sebelumnya.
Arus uang besar kini mengalir ke hampir seluruh perusahaan yang terhubung dengan rantai pasok AI. Dengan dominasi manufaktur chip global berada di Asia, kawasan tersebut kini menjadi episentrum baru ledakan industri AI.
Head of Multi-Asset Investment Pictet Asset Management, Andy Wong, menyebut Asia kini menjadi pusat perusahaan teknologi kecil namun sangat penting bagi perkembangan AI global.
“Dalam tema-tema teknologi tertentu, Asia memiliki perusahaan-perusahaan terbaik di dunia,” kata Wong.
Samsung mencatat lonjakan laba kuartal pertama hingga delapan kali lipat, dengan bisnis chip menyumbang 94% dari total laba rekor sebesar 57,2 triliun won. Harga saham Samsung juga melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini hingga kapitalisasi pasarnya menembus US$1 triliun, menjadikannya perusahaan Asia kedua setelah TSMC yang mencapai level tersebut.
SK Hynix juga mengalami lonjakan valuasi besar. Perusahaan yang valuasinya masih di bawah US$100 miliar sekitar 16 bulan lalu kini mendekati US$800 miliar.
Perusahaan itu bahkan sepakat membagikan 10% laba operasional tahunan kepada pekerja. Berdasarkan perhitungan Reuters, bonus rata-rata karyawan pada 2027 berpotensi mencapai US$680 ribu per orang.
Boom AI juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dan Taiwan. Produk domestik bruto Taiwan melonjak 13,69% pada kuartal pertama, tertinggi dalam hampir empat dekade. Sementara ekonomi Korea Selatan tumbuh 1,7%, tercepat dalam hampir enam tahun terakhir.
“Semuanya dibangun di atas AI,” kata Vice President Nomura Asset Management Taiwan, Chris Lo. Ia menyebut belanja modal perusahaan layanan cloud tumbuh 70% secara tahunan dan masih berpotensi meningkat lebih tinggi lagi.
“Kapasitas produksi banyak perusahaan Taiwan telah dipesan penuh hingga tahun 2027,” ujarnya. Meski demikian, sejumlah analis mulai memperingatkan risiko di balik reli besar saham AI Asia. Kekhawatiran muncul jika perusahaan AI global mulai kesulitan mencari pendanaan sehingga belanja chip dan investasi teknologi ikut melambat.
“Menurut saya, situasinya mulai berbahaya,” kata Chief Investment Officer Vantage Point Asset Management, Nick Ferres. Saat ini, ETF leveraged berbasis saham SK Hynix yang diperdagangkan di Hong Kong bahkan telah menjadi ETF single-stock terbesar kedua di dunia setelah menarik dana HK$40 miliar hanya dalam tujuh bulan sejak peluncuran.
Meski risiko mulai meningkat, sejumlah manajer investasi global masih melihat potensi kenaikan saham teknologi Asia belum berakhir. “Kami telah menambah ... dan terus melihat potensi peningkatan lebih lanjut,” kata Multi-Asset Portfolio Manager Fidelity International, Ian Samson.
Menurut dia, posisi investor global di pasar Taiwan dan Korea Selatan masih belum terlalu padat sehingga ruang penguatan saham AI Asia masih terbuka.(DH)