CEO Chevron peringatkan krisis pasokan minyak mulai terjadi
Jumat, 15 Mei 2026

NEW YORK - CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan dunia mulai menghadapi potensi kelangkaan fisik minyak akibat penutupan Selat Hormuz yang memicu gangguan besar pasokan energi global.
Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari, mengutip dari The Motley Fool.
Namun kini aliran minyak melalui jalur tersebut turun drastis, memaksa dunia mengandalkan cadangan minyak global hingga lebih dari 10 juta barel per hari.
Sejak konflik dimulai, dunia diperkirakan telah kehilangan pasokan antara 500 juta hingga 1 miliar barel minyak.
Kondisi ini membuat stok minyak global turun ke level terendah dalam delapan tahun, setara sekitar 101 hari kebutuhan dunia.
Persediaan produk olahan seperti bensin, diesel, dan bahan bakar jet bahkan hanya cukup untuk sekitar 45 hari.
Wirth mengatakan kondisi tersebut pada akhirnya akan memicu kelangkaan fisik minyak di sejumlah kawasan.
Asia diperkirakan menjadi wilayah pertama yang terdampak karena sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah, disusul Eropa yang menghadapi ancaman kekurangan bahan bakar pesawat.
Krisis pasokan itu turut mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent naik sekitar 75% tahun ini hingga mendekati US$110 per barel.
Harga bahan bakar jet juga melonjak tajam ke kisaran US$150 hingga US$200 per barel.
Meski harga energi naik, laba Chevron pada kuartal pertama justru turun dari US$3 miliar menjadi US$2,8 miliar akibat dampak pencatatan derivatif keuangan.
Namun perusahaan diperkirakan akan mencatat keuntungan lebih kuat pada kuartal kedua seiring kenaikan harga minyak yang terus berlanjut.
Mayoritas analis kini memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran US$90 hingga US$100 per barel sepanjang tahun ini karena pemulihan pasokan Teluk Persia diprediksi memerlukan waktu berbulan-bulan.
Konsensus industri juga menilai pasar minyak global kemungkinan baru pulih sepenuhnya pada 2027.
Saham Chevron sendiri tercatat telah naik sekitar 22% sepanjang tahun ini dan dinilai masih memiliki peluang penguatan lebih lanjut di tengah tingginya harga energi global. (DK)