Rusia raup untung besar dari lonjakan harga minyak global
Jumat, 15 Mei 2026

MOSKOW - Rusia menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari lonjakan harga minyak global di tengah berlanjutnya perang Iran dan terganggunya arus pasokan melalui Selat Hormuz.
Seperti dikutip Oilprice, kenaikan harga minyak membuat minyak mentah Urals, komoditas andalan ekspor Rusia, melonjak tajam.
Berdasarkan perhitungan Bloomberg dari data pemerintah Rusia, pendapatan minyak Mei akan dihitung menggunakan rata-rata harga Urals sebesar US$94,87 per barel, tertinggi sejak Oktober 2023.
Nilai tersebut setara hampir 7.300 rubel per barel, naik 18% dibanding April dan melonjak hampir 60% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan harga minyak ini datang hanya beberapa hari setelah Rusia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 0,4% dari sebelumnya 1,3%.
Pemerintah Rusia mengakui mesin pertumbuhan ekonomi berbasis perang mulai kehilangan tenaga.
Ekonomi Rusia tercatat menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2026, kontraksi kuartalan pertama sejak awal 2023, akibat tingginya suku bunga, sanksi Barat, dan melemahnya momentum domestik.
Namun gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia membuat pembeli global kembali mencari minyak Rusia yang sebelumnya banyak dihindari atau dibeli dengan diskon besar.
India kembali menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia, membuat arus petrodolar kembali mengalir deras ke Moskow.
Tambahan pendapatan energi itu memberi ruang napas baru bagi Kremlin.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan kenaikan penerimaan minyak memungkinkan Rusia kembali mengisi dana cadangan negara dan menunda langkah penghematan anggaran yang sensitif secara politik.
Meski demikian, Rusia masih menghadapi tantangan dari penguatan nilai tukar rubel. Mata uang Rusia itu menguat ke level tertinggi terhadap dolar AS sejak awal 2023.
Penguatan rubel memang positif bagi stabilitas mata uang, tetapi di sisi lain mengurangi nilai pendapatan ekspor minyak dalam mata uang lokal karena minyak diperdagangkan dalam dolar sementara pajak dihitung dalam rubel.
Selain itu, pemerintah Rusia juga harus menggelontorkan subsidi besar untuk menjaga harga bahan bakar domestik tetap stabil.
Pada April saja, Rusia membayar subsidi sebesar 359 miliar rubel atau sekitar US$4,8 miliar kepada kilang minyak domestik.
Meski begitu, harga minyak di kisaran US$95 per barel dinilai berhasil memberikan bantuan besar terhadap kondisi fiskal Rusia, sesuatu yang sebelumnya sulit dicapai melalui kebijakan moneter maupun dampak sanksi Barat.
Saat ini, lonjakan harga minyak membantu menjaga mesin ekonomi perang Rusia tetap berjalan. (DK)