China mulai kembali kirim tanker lewati Selat Hormuz

Jumat, 15 Mei 2026

image

BEIJING - Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran arus energi global. 

Seperti dikutip Oilprice, dalam kunjungan kenegaraan Trump ke China, kedua pemimpin juga menegaskan tidak boleh ada negara yang memungut biaya bagi kapal yang melintas di jalur pelayaran internasional tersebut.

Di tengah kesepakatan itu, media pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal China telah diizinkan melintasi Selat Hormuz dengan aman melalui koordinasi langsung dengan otoritas Iran dan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Bloomberg melaporkan kapal-kapal tersebut mendapat izin lewat koordinasi dengan pasukan laut IRGC, sementara kantor berita Reuters menyebut Iran mulai membuka akses bagi sejumlah kapal China setelah tercapai kesepahaman terkait protokol pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz.

Langkah itu disebut juga merupakan respons atas permintaan resmi Menteri Luar Negeri China dan duta besar China di Iran, dengan Teheran menyetujui pengaturan tersebut demi menjaga hubungan strategis kedua negara.

Seorang pejabat IRGC mengatakan “era baru” telah dimulai di Selat Hormuz, di mana banyak negara dan armada kapal dinilai mulai menerima bahwa jalur tercepat dan paling aman untuk melintas adalah melalui koordinasi dengan angkatan laut IRGC.

Sebelumnya, sebuah supertanker China yang membawa 2 juta barel minyak mentah Irak berhasil melewati Selat Hormuz setelah sempat tertahan lebih dari dua bulan akibat konflik di kawasan.

Menurut laporan The Wall Street Journal, kapal tanker milik perusahaan pelayaran China, Cosco Shipping, melintasi jalur utara yang dikendalikan IRGC tanpa membayar biaya tambahan.

Data pelacakan kapal menunjukkan tanker tersebut sempat mematikan transponder saat bergerak dari Dubai menuju Pulau Larak sebelum kembali aktif untuk beberapa jam dan kemudian kembali tidak terlacak. 

Broker pelayaran menyebut kapal yang melintas melalui Larak biasanya dikenakan biaya sekitar US$2 juta.

Kapal Yuan Hua Hu menjadi tanker milik pemerintah China ketiga yang berhasil keluar dari Teluk Persia sejak perang dimulai.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, sebelumnya juga menegaskan Washington dan Beijing sepakat tidak boleh ada pihak yang memungut biaya untuk pelayaran di jalur internasional seperti Selat Hormuz.

China sendiri sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. 

Meski Beijing memiliki cadangan minyak besar yang diperkirakan mencapai lebih dari 1,4 miliar barel, pemulihan arus pasokan normal dari Teluk Persia tetap penting bagi salah satu importir energi terbesar dunia tersebut. (DK)