Ed Yardeni: The Fed perlu lebih ketat hadapi lonjakan inflasi AS

Jumat, 15 Mei 2026

image

NEW YORK - Investor pasar obligasi menilai Federal Reserve (The Fed) perlu “mengejar ketertinggalan” dalam mengatasi inflasi di tengah kepemimpinan baru, menurut Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research.

Wall Street memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan menghapus bias pelonggaran kebijakan suku bunga pada pertemuan bulan depan, kata Yardeni. 

Para pelaku pasar obligasi bahkan berharap sikap tersebut digantikan dengan kecenderungan kebijakan yang lebih ketat, seperti dikutip CNBC.

Sebagai bukti, Yardeni menunjuk bahwa imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 2 tahun saat ini berada di atas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR). 

Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pasar tidak percaya suku bunga saat ini cukup tinggi untuk menekan inflasi.

“Pasar memberi sinyal bahwa FFR saat ini terlalu rendah untuk meredam inflasi dan mungkin perlu dinaikkan,” tulis Yardeni dalam catatan kepada klien pada Rabu.

Ia menambahkan bahwa The Fed mungkin perlu menunjukkan kesiapan untuk menaikkan suku bunga setelah lima tahun inflasi berada di atas target tahunan 2%.

“Sekadar menghapus bias pelonggaran mungkin tidak cukup,” ujarnya.

Pernyataan Yardeni muncul di tengah serangkaian data inflasi yang kembali meningkat akibat dampak perang Iran. 

Hal ini dapat mempersulit prospek bagi Kevin Warsh, kandidat Presiden Donald Trump untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell.

Data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) April naik 3,8% secara tahunan, tertinggi sejak 2023. 

Sementara inflasi grosir melonjak 6% dalam 12 bulan, laju tercepat sejak 2022.

Warsh, yang baru saja dikonfirmasi oleh Senat, menjanjikan “perubahan rezim” di bank sentral. Namun Trump sebelumnya konsisten menekan The Fed agar menurunkan suku bunga demi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan pasar tidak memperkirakan pemotongan suku bunga hingga akhir tahun, menurut CME FedWatch Tool. 

Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga justru meningkat dalam beberapa hari terakhir. (DK)