Bos Bank Sentral Luis Perez bicara restrukturisasi utang Venezuela
Jumat, 15 Mei 2026

JAKARTA - Venezuela mulai menjalankan restrukturisasi utang luar negeri dan kewajiban PDVSA yang nilainya diperkirakan melampaui US$150 miliar, menandai upaya Caracas kembali masuk ke sistem keuangan global setelah bertahun-tahun terisolasi akibat gagal bayar dan sanksi internasional.
Presiden interim Bank Sentral Venezuela, Luis Perez, mengatakan langkah restrukturisasi menjadi momentum penting untuk memulihkan hubungan negara itu dengan lembaga keuangan internasional.
“Restrukturisasi ini membawa Republik Venezuela keluar dari bayang-bayang di dunia keuangan internasional,” ujar Perez seperti dikutip Reuters.
“Seluruh dunia menyaksikan dengan antusias dan persetujuan.”
Venezuela mengumumkan dimulainya restrukturisasi utang pada Rabu waktu setempat. Kewajiban yang akan dinegosiasikan mencakup obligasi negara, utang perusahaan minyak negara PDVSA, bunga tertunggak, hingga kewajiban hasil putusan arbitrase internasional sejak negara itu gagal bayar pada 2017.
Perez menolak membeberkan rincian skema restrukturisasi dan menyebut pembahasan teknis ditangani langsung oleh perwakilan Venezuela di Dana Moneter Internasional (IMF), Calixto Ortega.
Di saat bersamaan, Caracas mulai memulihkan hubungan dengan IMF dan Bank Dunia setelah hubungan dengan kedua institusi itu memburuk sejak 2019 akibat konflik politik dan sanksi Barat. Delegasi Venezuela dijadwalkan bertemu pejabat IMF di Washington akhir bulan ini.
“Putusnya hubungan dengan Dana Moneter Internasional seharusnya tidak pernah terjadi. Itu adalah konsekuensi dari sanksi,” kata Perez.
IMF sebelumnya mengindikasikan kemungkinan dukungan sekitar US$5 miliar melalui fasilitas special drawing rights (SDR) yang belum digunakan Venezuela. Pemerintah interim yang dipimpin Delcy Rodriguez berencana memanfaatkan dana itu untuk memperbaiki sektor kelistrikan nasional.
Bank sentral juga memperkirakan ekonomi Venezuela tumbuh sekitar 8% sepanjang 2026 dengan inflasi turun ke level satu digit. Pada kuartal pertama, ekonomi Venezuela tumbuh 2,5% berkat ekspansi sektor nonmigas sebesar 3,1%, meski sektor minyak masih menyusut 2,1%.
Perez menilai peran Amerika Serikat menjadi faktor penting dalam proses pemulihan ekonomi dan pelonggaran sanksi terhadap Venezuela.
“Amerika Serikat memainkan peran penting,” ujar Perez. “Pemerintah Amerika Serikat tidak mungkin tidak memainkan peran utama dalam mencabut pembatasan tersebut juga.”
Washington pada April lalu mengeluarkan lisensi yang memungkinkan Bank Sentral Venezuela kembali melakukan transaksi dengan institusi luar negeri. Kebijakan itu dinilai menjadi sinyal awal normalisasi hubungan ekonomi kedua negara.
Selain restrukturisasi utang, Bank Sentral Venezuela juga menyiapkan kerja sama audit dengan firma Binder Dijker Otte (BDO) untuk meninjau laporan keuangan lembaga tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi fiskal.(DH)