Bank Sentral Kanada: AI belum gantikan pekerja secara massal
Jumat, 15 Mei 2026

OTTAWA – Bank of Canada menyatakan sejauh ini belum terdapat tanda-tanda kecerdasan buatan (AI) menyebabkan hilangnya pekerjaan secara luas.
Seperti dikutip Reuters, Rabu (13/05), bank sentral Kanada menilai AI lebih berpotensi mengubah jenis tugas pekerjaan dibanding menggantikan pekerja secara massal.
Deputi Gubernur BoC, Michelle Alexopoulos, mengatakan bank sentral terus memantau perkembangan pasar tenaga kerja seiring meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor.
Ia memperkirakan sebagian pekerjaan memang akan tergantikan dan jenis pekerjaan baru akan muncul. Namun, hingga kini belum ada bukti terjadinya pemindahan tenaga kerja secara besar-besaran akibat AI.
“Secara garis besar, bukti belum menunjukkan pemindahan pekerja yang meluas akibat AI,” ujarnya dalam acara bisnis di Ottawa.
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang investasi besar perusahaan teknologi global dalam pengembangan AI.
Para ekonom dan analis masih terbelah mengenai dampak akhirnya, apakah AI akan menghasilkan lonjakan produktivitas besar atau justru memicu pengurangan tenaga kerja dalam skala luas.
Menurut Alexopoulos, BoC mulai melihat tanda-tanda kecil peningkatan produktivitas dari penggunaan AI.
Bank sentral Kanada bahkan mulai memasukkan dampak terbatas tersebut ke dalam proyeksi output potensial dan perkiraan ekonominya.
Temuan itu diperkuat survei terbaru BoC terhadap para ahli manajemen risiko senior di sektor keuangan.
Hasil survei menunjukkan banyak institusi melihat AI sebagai alat pendukung pengambilan keputusan, sementara manusia tetap memegang kendali utama.
“Ini memperkuat pandangan bahwa AI sebagian besar akan mengubah pekerjaan, bukan menghilangkannya,” kata Alexopoulos.
Ia juga menyoroti kondisi demografi Kanada yang menua sebagai faktor yang dapat mempercepat adopsi AI.
Menurutnya, pensiunnya populasi usia kerja berpotensi menciptakan kekurangan tenaga kerja, sehingga perusahaan terdorong mencari solusi berbasis AI untuk menjaga produktivitas.
Meski demikian, Alexopoulos mengatakan masih belum jelas apakah penggunaan AI nantinya akan menyebar secara merata di seluruh ekonomi atau hanya terkonsentrasi di sektor tertentu.
Ia meyakini integrasi AI di dunia usaha dapat meningkatkan efisiensi produksi barang dan layanan.
“Produktivitas yang lebih kuat akan membuat bisnis lebih kompetitif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan upah pekerja, menurunkan biaya bagi konsumen, dan mengurangi tekanan inflasi,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari Gubernur BoC, Tiff Macklem, pada 2024.
Saat itu, Macklem mengatakan adopsi AI kemungkinan akan menambah tekanan harga dalam jangka pendek, tetapi berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi dalam jangka panjang. (SF)