Sidang OpenAI memanas, Musk disebut derita 'amnesia selektif'
Jumat, 15 Mei 2026

JAKARTA – Babak akhir persidangan antara OpenAI dan Elon Musk memanas setelah kedua kubu saling menyerang kredibilitas lawan dalam sidang penutup di pengadilan federal Oakland, California.
Seperti Dikutip Reuters Kamis (14/05), pengacara Musk menuduh CEO OpenAI, Sam Altman, sebagai pembohong, sementara tim hukum OpenAI balik menuding Musk mengalami “amnesia selektif”.
Persidangan ini menentukan apakah OpenAI dan para pemimpinnya melanggar prinsip pendirian organisasi nirlaba dengan mengubah perusahaan menjadi kendaraan untuk memperkaya diri.
Dalam gugatan tersebut, Musk menuduh Altman dan Presiden OpenAI, Greg Brockman, memanipulasinya agar menyumbang sekitar US$38 juta sebelum diam-diam mengubah arah OpenAI menjadi entitas komersial yang menerima investasi besar dari Microsoft dan investor lain.
Musk menuntut ganti rugi sekitar US$150 miliar terhadap OpenAI dan Microsoft. Jika menang, dana tersebut diminta dialihkan ke organisasi nirlaba OpenAI. Ia juga meminta Altman dan Brockman dicopot dari posisi mereka.
Pengacara Musk, Steven Molo, mengatakan lima saksi, termasuk Musk dan mantan Kepala Ilmuwan OpenAI Ilya Sutskever, menggambarkan Altman sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya.
Molo menyoroti jawaban Altman saat pemeriksaan silang pada Selasa, ketika ia tidak memberikan jawaban tegas saat ditanya apakah dirinya selalu jujur dalam urusan bisnis.
“Kredibilitas Sam Altman secara langsung menjadi masalah dalam kasus ini. Jika Anda tidak memercayainya, mereka tidak bisa menang,” kata Molo kepada juri.
Ia juga menyerang Brockman setelah eksekutif OpenAI itu mengungkap nilai kepemilikan sahamnya yang diperkirakan hampir US$30 miliar.
Menurut Molo, pernyataan tersebut mencerminkan “kearoganan dan kurangnya kepekaan”.
Molo turut menuduh Microsoft mengetahui arah transformasi OpenAI sejak awal, merujuk investasi US$1 miliar pada 2019 dan US$10 miliar pada 2023.
“Microsoft menyadari apa yang dilakukan OpenAI di setiap langkahnya,” ujarnya.
Di pihak pertahanan, pengacara OpenAI, William Savitt, membalas dengan menyatakan Musk tidak berhasil membangun posisi dominan di bidang AI.
“Tuan Musk mungkin memiliki sentuhan Midas di beberapa area, tetapi tidak dalam AI,” katanya.
Savitt juga menuduh Musk mengalami “amnesia selektif” terkait keterlibatannya dalam rencana awal pengembangan OpenAI.
Pengacara OpenAI lainnya, Sarah Eddy, mengatakan sejak 2017 seluruh pendiri OpenAI, termasuk Musk, telah mengetahui organisasi tersebut membutuhkan pendanaan jauh lebih besar daripada yang dapat diperoleh model nirlaba.
Menurut Eddy, Musk justru sempat mendorong OpenAI berubah menjadi perusahaan yang berada di bawah kendalinya sendiri.
“Pendiri lainnya menolak menyerahkan kunci AGI kepada satu orang, apalagi Elon Musk,” ujarnya.
Ingin Gabungkan OpenAI dan Tesla
Eddy juga menyinggung upaya Musk yang disebut ingin menggabungkan OpenAI dengan Tesla, serta mempertanyakan komitmennya terhadap prinsip AI untuk kemanusiaan karena perusahaan AI miliknya, xAI, juga beroperasi secara komersial.
Dalam aspek hukum, OpenAI menilai gugatan Musk diajukan terlambat.
Tim hukum perusahaan menyebut Musk sebenarnya telah mengetahui rencana ekspansi dan pencarian investasi OpenAI sejak beberapa tahun lalu, sehingga gugatan yang diajukan pada Agustus 2024 dianggap melewati batas waktu tiga tahun.
Eddy menyindir klaim Musk yang mengaku tidak membaca dokumen term sheet empat halaman pada 2018 terkait rencana investasi eksternal OpenAI.
“Salah satu pengusaha paling canggih dalam sejarah dunia tidak mungkin membenamkan kepalanya di pasir,” ujarnya.
Sementara itu, pengacara Microsoft, Russell Cohen, membantah perusahaan terlibat dalam dugaan pelanggaran yang dituduhkan Musk.
Ia menyebut Microsoft bertindak sebagai “mitra yang bertanggung jawab di setiap langkah”.
Dalam sidang penutup tersebut, Altman dan Brockman hadir langsung di pengadilan, sementara Musk berada di China mendampingi Presiden AS Donald Trump.
Sebanyak sembilan anggota juri dijadwalkan mulai berunding pada Senin mendatang.
Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers juga akan membahas kemungkinan restrukturisasi OpenAI serta bentuk kompensasi jika Musk memenangkan perkara.
Persidangan ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap perkembangan AI, mulai dari penggunaan untuk pengenalan wajah, layanan keuangan, diagnosis medis, hingga deepfake dan kekhawatiran hilangnya pekerjaan.
Di tingkat industri, OpenAI kini bersaing dengan Anthropic dan xAI, sembari mempersiapkan kemungkinan IPO yang dapat menilai perusahaan hingga US$1 triliun.
Seorang eksekutif Microsoft dalam persidangan juga mengungkap perusahaan telah menggelontorkan lebih dari US$100 miliar untuk kemitraannya dengan OpenAI.
Sementara itu, xAI milik Musk kini menjadi bagian dari SpaceX, yang juga disebut tengah menyiapkan potensi IPO besar. (SF)