Penjualan ritel diperkirakan turun dalam 3-6 bulan mendatang
Jumat, 15 Mei 2026
JAKARTA – Survei Penjualan Eceran dari Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan eceran atau ritel diperkirakan turun pada April 2026, dengan perkiraan Indeks Penjualan Riil (IPR) di level 231.
Posisi tersebut lebih rendah dari IPR periode Maret 2026, yang mencapai 256,7.
“Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh sebesar 10,3% (secara bulanan),” ungkap BI dalam laporan survei tersebut.
Mayoritas kelompok disebut turut mendukung kinerja penjualan ritel pada Maret, terutama pada kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan dan Minuman, Tembakau, hingga Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (BBM).
Namun untuk periode April 2026, hasil survei BI memperkirakan penjualan ritel cenderung melambat, dengan perkiraan IPR di level 231. Level ini secara bulanan lebih rendah sekitar 10%.
“Dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1447 H,” tulis BI.
Sementara ekspektasi responden survei atas penjualan ritel 3-6 bulan mendatang bahkan lebih rendah dibandingkan April 2026, dengan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) pada Juni dan September 2026 masing-masing di level 136,8 dan 137,8.
Faktor musiman seperti libur sekolah dan minimnya cuti bersama hingga event besar menjadi alasan, seperti halnya yang terjadi di bulan serupa tahun lalu.
Selain itu, responden memperkirakan harga penjualan ritel akan meningkat akibat tekanan inflasi, yang mendorong Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2026 masing-masing di level 175,6 dan 163,2.
“Responden menginformasikan peningkatan IEH Juni 2026 didorong oleh kenaikan harga bahan baku,” jelas laporan survei BI. (KR)