Pertumbuhan ekonomi Malaysia melambat, di bawah Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026

image

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 5,4% pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dari estimasi konsensus yang memperkirakan pertumbuhan di level 5,3%.

Namun pertumbuhan ekonomi Malaysia cenderung melambat, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal empat 2025, yang mencapai 6,2% secara tahunan.

Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM), Abdul Rasheed Ghaffour, mengatakan perlambatan itu akibat dinamika pasar global.

“Dari tingginya harga energi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian yang meningkat akibat faktor eksternal,” ungkap Abdul Ghaffour, dalam keterangan yang disampaikan Jumat (15/5).

Meskipun demikian, Ghaffour menilai ekonomi Malaysia diperkirakan tetap resilien untuk 2026, dengan ekspektasi pertumbuhan di kisaran 4-5%.

“Didukung permintaan domestik yang tetap kuat dan ekspansi lanjutan yang mendukung kinerja ekspor,” imbuhnya.

Dari sisi kebijakan moneter, Ghaffour menilai tingkat suku bunga acuan di Malaysia juga sudah tepat, setelah bank sentral menahan suku bunga acuan di level 2,75%.

Berbeda dengan Malaysia, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama taun ini mencapai 5,61%, didukung faktor musiman seperti perayaan Idul Fitri 2026 yang mendorong belanja konsumen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan tertinggi dalam 10 kuartal terakhir, atau sejak September 2022.

Namun pemerintah Indonesia saat ini tengah berusaha menjaga level pertumbuhan ekonominya dengan berbagai cara, agar mencapai target pertumbuhan 5,4-5,6% untuk 2026. (KR)