CENTCOM: 90% Ranjau laut Iran di Selat Hormuz hancur
Sabtu, 16 Mei 2026

JAKARTA - Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengklaim operasi pengeboman AS selama 38 hari telah melemahkan kemampuan militer Iran secara signifikan, meski ancaman Teheran terhadap kawasan belum sepenuhnya hilang.
Seperti dikutip Navytimes, dalam kesaksiannya di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Kamis (15/5), Cooper menyebut Iran kini hanya memiliki kemampuan terbatas untuk melancarkan serangan ke negara-negara di kawasan Timur Tengah. “Ini adalah negara yang sangat besar,” kata Cooper.
Ia mengakui Iran masih memiliki kemampuan yang sangat terbatas, bahkan bisa dibilang kecil untuk melakukan serangan terhadap negara tetangga.
AS dan Iran hingga kini masih terlibat kebuntuan di Selat Hormuz yang telah berlangsung selama sebulan. Kedua negara belum menemukan jalan keluar setelah sama-sama menolak berbagai proposal penyelesaian krisis.
Ketegangan memuncak setelah Iran membalas serangan gabungan AS-Israel dengan menghambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak dunia. Iran menggunakan ancaman ranjau laut dan serangan terhadap sejumlah kapal untuk menekan aktivitas pelayaran.
Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
“Kemampuan Iran untuk menghentikan perdagangan melalui selat tersebut telah menurun drastis,” ujar Cooper. “Namun suara mereka sangat lantang, dan ancaman-ancaman itu jelas terdengar oleh industri perdagangan dan industri asuransi.”
Cooper mengklaim militer AS telah menghancurkan sekitar 90% persediaan lebih dari 8.000 ranjau laut milik Iran. Ia juga menyebut operasi militer bertajuk Operation Epic Fury berhasil mencapai seluruh target utama Washington, termasuk menghancurkan 90% basis industri pertahanan Iran.
Meski demikian, sejumlah laporan media AS meragukan klaim kemenangan besar yang disampaikan pemerintahan Presiden Donald Trump.
The New York Times melaporkan badan intelijen AS menilai Iran masih mempertahankan sekitar 70% persediaan rudal dan peluncur bergeraknya sebelum perang dimulai. Cooper menolak membahas detail laporan intelijen tersebut, namun menegaskan angka yang beredar di publik tidak akurat.
“Ini lebih dari sekadar angka. Ini tentang komando dan kendali yang telah hancur. Ini tentang penurunan kemampuan yang signifikan. Dan ini tentang kurangnya kemampuan untuk kemudian memproduksi rudal atau drone di lini belakang,” katanya.
Menurut Cooper, kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan di luar wilayahnya kini melemah drastis, termasuk dukungan terhadap kelompok sekutu di kawasan.
“Ancaman terhadap Iran telah berkurang secara signifikan. Mereka tidak lagi mengancam mitra regional, atau Amerika Serikat, dengan cara yang mampu mereka lakukan sebelumnya, di setiap bidang,” ujarnya.
Ia juga menyebut Hamas, Hizbullah, dan kelompok Houthi kini terputus dari pasokan senjata dan dukungan Iran akibat operasi militer AS.
Sebelum Operation Epic Fury dimulai, Cooper mengatakan kelompok-kelompok yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” telah melancarkan lebih dari 350 serangan terhadap personel militer dan diplomat AS di kawasan dalam 30 bulan terakhir. (DH)