AI dorong kebutuhan data center RI, liquid cooling jadi solusi utama

Rabu, 20 Mei 2026

image

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong lonjakan kebutuhan infrastruktur data center di Indonesia. Seiring meningkatnya densitas komputasi, teknologi pendingin cair (liquid cooling) menjadi solusi utama untuk menjaga efisiensi energi, keandalan operasional, dan keberlanjutan pusat data generasi baru.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Media Masterclass: Liquid Cooling & Next-Gen Data Center Infrastructure yang diselenggarakan Schneider Electric Indonesia, Rabu (20/5/2026).

Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, mengatakan AI telah mengubah kebutuhan daya dan desain data center secara signifikan.

“Kalau pada 2012 satu rak server hanya membutuhkan daya sekitar 3 kilowatt, sekarang untuk workload AI sudah mencapai 120 kilowatt per rak. Tahun ini akan muncul rak dengan konsumsi daya 600 kilowatt, dan ke depan dapat mencapai 1.000 kilowatt per rak,” ujarnya.

Menurut Hendra, peningkatan densitas komputasi membuat sistem pendingin berbasis udara tidak lagi memadai. Operator data center perlu mengadopsi teknologi liquid cooling untuk menjaga performa GPU dan mencegah thermal throttling.

IDPRO memperkirakan kapasitas data center nasional akan mencapai sekitar 1,6 gigawatt (GW) pada akhir 2026. Dalam jangka lebih panjang, total IT load nasional diproyeksikan meningkat dari 1.717 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 4.145 MW pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 19,27%.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh skala aktivitas digital Indonesia yang memiliki sekitar 286 juta penduduk, 230 juta pengguna internet, 180 juta identitas pengguna media sosial, dan 331 juta koneksi seluler pada 2025.

Secara global, konsumsi daya untuk workload AI dan infrastruktur pendukung diperkirakan meningkat dari 4,3 GW pada 2023 menjadi 13,5–18 GW pada 2028. Porsi AI terhadap total konsumsi daya data center juga diperkirakan naik dari 8% menjadi 15–20% pada periode yang sama.

Business Vice President Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, mengatakan AI menuntut pendekatan baru dalam pembangunan data center.

“AI membuat data center memasuki babak baru. Infrastruktur yang dulu cukup diukur dari kapasitas ruang dan konektivitas, kini harus siap menghadapi kebutuhan daya yang lebih tinggi, panas yang lebih intens, dan tuntutan uptime yang semakin kritikal,” ujarnya.

Schneider Electric menawarkan solusi liquid cooling untuk mendukung server GPU dan lingkungan komputasi berdensitas tinggi. Sistem ini menggabungkan pendinginan cair untuk beban panas utama dengan pendinginan udara untuk sisa beban panas dalam desain hibrida.

Perusahaan juga menyediakan portofolio infrastruktur data center secara end-to-end, meliputi medium voltage hingga low voltage, UPS, Power Distribution Unit (PDU), Battery Energy Storage System (BESS), sistem pendingin, serta perangkat lunak seperti EcoStruxure IT, Building Management System (BMS), Electric Power Management System (EPMS), dan ETAP Digital Twin.

Pada Februari 2025, Schneider Electric mengakuisisi Motivair, perusahaan asal Amerika Serikat yang telah men-deploy lebih dari 4 GW kapasitas liquid cooling dan memasok sistem pendingin untuk enam dari 10 superkomputer tercepat di dunia, termasuk tiga teratas.

Schneider Electric menyebut telah mendukung pendinginan lebih dari 400 kilowatt per rack sejak 2018 dan portofolionya mampu memenuhi sekitar 90% kebutuhan infrastruktur data center secara end-to-end. Perusahaan juga bermitra dengan NVIDIA untuk menyediakan reference design bagi platform AI berbasis GPU GB200 dan GB300.

Hendra menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat data center dan AI di Asia Tenggara. Namun, ia menekankan perlunya dukungan regulasi, insentif fiskal, dan percepatan pemanfaatan energi terbarukan agar pertumbuhan industri tetap kompetitif dan berkelanjutan.

“Kalau dukungan regulasi dan insentif memadai, Indonesia berpotensi menjadi hub AI dan data center terbesar di kawasan,” ujarnya. (SF)