Imbal hasil obligasi China turun, berlawanan dengan tren AS dan Jepang

Rabu, 20 Mei 2026

image

TIONGKOK - Imbal hasil obligasi China semakin menyimpang dari negara-negara lain karena pemulihan ekonomi yang rapuh dan likuiditas pasar yang melimpah membuat imbal hasil domestik tetap tertekan, meskipun terjadi aksi jual obligasi secara global.

Seperti dikutip Bloomberg, imbal hasil obligasi pemerintah China bertenor 10 tahun turun lebih dari tiga basis poin minggu ini menjadi 1,73% per Selasa, level terendah sejak pertengahan Agustus tahun lalu.

Kondisi ini sangat berbeda dengan Amerika Serikat dan Jepang, di mana imbal hasil dengan tenor serupa justru melonjak dalam beberapa waktu terakhir akibat meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi yang semakin cepat akan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.

Ekonomi China mencatat perlambatan luas pada konsumsi, investasi, dan produksi industri pada bulan April, menurut data resmi yang dirilis Senin, sehingga memperkuat seruan untuk kebijakan yang lebih mendukung.

Permintaan obligasi domestik juga ditopang oleh ketahanan China terhadap lonjakan harga minyak, berkat investasi jangka panjang pada energi terbarukan dan upaya menjaga pasokan energi yang stabil.

Obligasi China tetap tangguh di tengah aksi jual global karena komitmen bank sentral untuk menjaga likuiditas yang memadai, pemulihan pertumbuhan yang belum sepenuhnya kuat, serta inflasi yang relatif terkendali, kata Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar Asia-Pasifik senior di BNY.

Dalam laporan kebijakan moneter kuartalan terbarunya, People’s Bank of China menegaskan kembali komitmennya untuk menerapkan kebijakan “longgar secara moderat” dan menjaga likuiditas tetap longgar guna mendukung pertumbuhan.

Selisih imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun antara AS dan China melebar menjadi hampir 300 basis poin, tertinggi sejak awal 2025.

Sementara itu, diskon imbal hasil China terhadap Jepang juga melebar menjadi 102 basis poin, sekitar lima kali lipat dibanding akhir 2025.

Serena Zhou, ekonom senior China di Mizuho Securities, memperkirakan perbedaan ini akan memberikan tekanan pada yuan.

“Melebarnya selisih suku bunga AS–China kemungkinan akan melemahkan ekspektasi apresiasi yuan, sehingga selisih antara nilai spot yuan dan kurs referensi resmi dapat menyempit secara bertahap,” ujarnya.

Yuan di pasar onshore tidak banyak berubah di level 6,8102 per dolar pada hari Rabu.

Mata uang ini naik 2,6% sepanjang tahun ini dan menjadi kinerja terbaik di Asia terhadap dolar AS.

People’s Bank of China menetapkan kurs referensi yuan di 6,8397 per dolar, lebih lemah dibanding 6,8375 pada hari Selasa. (DK)