Imbas inflasi dan geopolitik global, harga tembaga & bijih besi turun

Rabu, 20 Mei 2026

image

JAKARTA - Tembaga sedikit melemah dan harga bijih besi turun untuk hari kelima berturut-turut, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa bank-bank sentral global akan mengambil sikap lebih agresif (hawkish) untuk melawan inflasi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.

Logam merah tersebut sempat turun hingga 0,5% ke level US$13.350 per ton di London, level terendah sejak 8 Mei, sementara kontrak berjangka bijih besi merosot hingga 0,9% ke US$106,80 per ton di Singapura.

Seperti dikutip Bloomberg, gejolak di pasar obligasi global turut menekan harga logam, karena kebuntuan antara AS dan Iran dikhawatirkan dapat memperburuk guncangan energi yang melanda dunia.

Obligasi Treasury AS naik ke level tertinggi sejak 2007 di tengah meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

“Ekspektasi pemotongan suku bunga di ekonomi utama telah memudar setelah lonjakan inflasi,” kata Wei Ying, analis di China Industrial Futures Ltd.

Sebelumnya, logam sempat menguat pada awal Mei, dengan tembaga mencetak rekor penutupan tertinggi dan bijih besi mencapai level tertinggi sejak 2024.

Namun sentimen tersebut berubah menjadi kehati-hatian karena krisis Iran terus berlanjut.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengancam Republik Islam tersebut dengan “serangan besar” jika tidak menyetujui perjanjian damai, meskipun sebelumnya ia pernah menarik kembali ancaman serupa.

Data ekonomi Tiongkok yang beragam juga menambah ketidakpastian.

Data awal pekan ini menunjukkan perlambatan signifikan dalam konsumsi domestik, dengan ekspor tidak lagi cukup untuk meredakan tekanan ekonomi dalam negeri.

Investasi aset tetap bahkan kembali mengalami kontraksi secara mengejutkan.

“Pertumbuhan global saat ini sebagian besar didorong oleh belanja modal untuk kecerdasan buatan dan teknologi lainnya, sementara industri tradisional tetap lemah,” ujar Wei dari China Industrial.

Pada pukul 11:34 waktu Shanghai, tembaga turun 0,2% ke US$13.390, sementara logam dasar lainnya juga melemah di London Metal Exchange.

Bijih besi di Singapore Exchange turun 0,7% ke US$107 per ton. (DK)