UEA bangun pipa minyak bypass Selat Hormuz, rampung 2027
Kamis, 21 Mei 2026

JAKARTA - CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Ahmed Al Jaber mengatakan pada Rabu (20/05/26) bahwa proyek pipa minyak baru milik Uni Emirat Arab yang dirancang untuk melewati Selat Hormuz kini sudah sekitar 50% selesai.
Al Jaber, seperti dikutip Reuters (20/5/26) juga memperingatkan bahwa arus minyak global mungkin memerlukan setidaknya empat bulan setelah perang Iran berakhir untuk pulih hingga 80% dari level sebelum konflik.
Iran sebagian besar menutup jalur perairan penting bagi pasokan minyak dan gas dunia itu untuk semua kapal selain miliknya sendiri sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.
Penutupan tersebut memicu lonjakan harga energi dan inflasi global, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Kantor Media Abu Dhabi pekan lalu mengungkap keberadaan proyek West-East Pipeline yang baru. Disebutkan bahwa Putra Mahkota Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed memerintahkan ADNOC untuk mempercepat pembangunan proyek itu agar kapasitas ekspor melalui pelabuhan Fujairah bisa meningkat dua kali lipat pada 2027.
“Hari ini proyek itu sudah hampir 50% selesai, dan kami mempercepat penyelesaiannya menuju 2027,” kata Al Jaber dalam acara Atlantic Council yang disiarkan langsung. Itu menjadi salah satu pernyataan publiknya yang paling luas sejak perang dimulai.
“Saat ini, terlalu banyak energi dunia masih melewati terlalu sedikit titik sempit strategis. Itulah sebabnya UEA memutuskan lebih dari satu dekade lalu untuk berinvestasi pada infrastruktur yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Pipa Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) yang sudah ada saat ini mampu mengalirkan hingga 1,8 juta barel per hari, dan menjadi sangat penting bagi UEA untuk memaksimalkan ekspor dari pantai Teluk Oman di luar Selat Hormuz.
Iran, yang sebelumnya menyerang kapal-kapal untuk menunjukkan kontrol atas selat tersebut, kini memperluas definisi wilayah Selat Hormuz hingga mencakup garis pantai Teluk Oman milik UEA.
Di sisi lain, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dan sempat mencoba operasi yang gagal untuk membuka kembali jalur tersebut.
UEA Jadi Sasaran
Negara-negara Arab Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS ikut terkena dampak konflik, bahkan setelah gencatan senjata rapuh dimulai pada 8 April.
Menurut Al Jaber, UEA menjadi sasaran lebih dari 3.000 rudal dan drone yang diarahkan ke infrastruktur sipil, termasuk fasilitas ADNOC. Penilaian kerusakan masih berlangsung, dan pemulihan kapasitas operasional penuh bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. “UEA diserang karena model pembangunannya,” katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa bahkan jika konflik berakhir besok, arus perdagangan melalui Selat Hormuz kemungkinan tidak akan kembali normal sepenuhnya sebelum kuartal pertama atau kedua tahun 2027.
“Begitu dunia menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur pelayaran terpenting dunia, maka kebebasan navigasi seperti yang kita kenal akan berakhir,” ujarnya.
“Jika prinsip ini tidak dipertahankan hari ini, maka dekade berikutnya akan dihabiskan untuk menghadapi konsekuensinya.”
Investasi Energi
Percepatan proyek pipa ini terjadi setelah UEA resmi keluar pada 1 Mei dari OPEC yang dipimpin secara de facto oleh Arab Saudi. Langkah itu membebaskan UEA dari kuota produksi minyak.
Al Jaber menyebut keputusan keluar dari OPEC sebagai langkah “strategis dan berdaulat” yang didorong oleh kebutuhan energi global yang semakin besar. Ia menegaskan bahwa keputusan itu “tidak ditujukan kepada pihak mana pun” dan “bukan untuk merusak hubungan”.
Ia juga memperingatkan bahwa sektor energi global masih kekurangan investasi serius. Menurutnya, investasi hulu minyak saat ini sekitar 400 miliar dolar AS per tahun hanya cukup untuk menutupi penurunan produksi alami.
Kapasitas cadangan minyak mentah global yang kini sekitar 3 juta barel per hari seharusnya mendekati 5 juta barel per hari.
AI Naikkan Kebutuhan Energi
Al Jaber juga mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan memberikan tekanan besar pada jaringan listrik dunia, dan banyak pihak meremehkan seberapa besar kebutuhan energi dari revolusi AI.
“Dalam banyak hal, perlombaan AI adalah perlombaan elektron,” katanya, merujuk pada kebutuhan listrik besar untuk mendukung AI dan kecepatan pengambilan keputusan berbasis AI saat krisis.
Ia kembali menegaskan komitmen UEA untuk berinvestasi besar di Amerika Serikat. ADNOC, unit internasionalnya XRG, dan investor energi terbarukan Masdar yang dipimpinnya, disebut sudah memiliki investasi senilai US$85 miliar di 19 negara bagian AS.
“UEA dan Amerika Serikat bukan sekadar mitra dagang. Kami adalah rekan investor dalam ekonomi abad berikutnya,” tutupnya. (YS)