BUMN China kuasai 55 proyek pembangkit listrik RI, berikut detailnya
Kamis, 21 Mei 2026

JAKARTA - China City Environment Protection Engineering Limited (CCEPC), anak usaha BUMN China Metallurgical Corporation of China (MCC), mengungkapkan telah menguasai proyek pembangkit listrik hampir 14 gigawatt (GW) di Indonesia melalui puluhan proyek yang tersebar di berbagai wilayah.
Executive Director PT CCEPC, Gao Hai, mengatakan perusahaan telah membangun 55 pembangkit listrik di Indonesia dan terus memperluas pengembangan teknologi serta tenaga kerja lokal.
“55 pembangkit listrik yang sudah dibangun di Indonesia, terpencar di seluruh Indonesia. Dengan pengalaman yang sebanyak ini kita juga mengumpulkan teknisi-teknisi lokal untuk mengembangkannya,” ujar Gao dalam acara HIPMI, seperti dikutip BloombergTechnoz (20/5)
CCEPC tercatat memiliki total kapasitas pembangkit sebesar 13.975 megawatt atau setara 13,98 GW di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 7,59 GW telah beroperasi, sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi.
Gao menyebut kapasitas proyek perusahaan di Indonesia kini mendekati setengah dari total proyek pembangkit yang mereka bangun di China.
“Seperti yang sudah disebut kita telah membuat total 26.000 megawatt atau 26 GW pembangkit di China dan untuk di Indonesia kita punya hampir 14.000 megawatt sendiri,” kata dia.
Masuknya CCEPC memperlihatkan besarnya dominasi investor asing melalui skema Independent Power Producer (IPP) di sektor ketenagalistrikan Indonesia.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary mengungkapkan hingga saat ini sekitar 70%-75% pembangkit listrik di Indonesia masih dimiliki IPP.
“Angka sekarang itu sekitar 70-75% (pembangkit milik IPP). Seluruh proyeknya dan apalagi adalah pembangkitan, itu adalah milik IPP,” ujar Rizal. Menurut Rizal, dominasi IPP justru membantu PLN dalam memenuhi kebutuhan investasi sektor kelistrikan nasional yang sangat besar.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun untuk pembangkit, transmisi, gardu induk, dan distribusi listrik.
“Saya mau sampaikan, PLN tidak banyak duitnya. Sesuai dengan yang tertera di RUPTL, kita butuh investasi sebesar Rp2.600 triliun. Belum transmisi gardu induk sebesar Rp300 triliun. Dan untuk distribusinya Rp100 triliun. Dan IPP itu artinya peluang bagi pengusaha-pengusaha,” kata Rizal.(DH)