Lombard Odier prediksi harga emas tembus US$5.400 pada semester I 2027

Kamis, 21 Mei 2026

image

JAKARTA - Reli harga emas diperkirakan kembali berlanjut setelah perang Iran mereda, dengan harga berpotensi mencapai US$5.400 per ons pada semester I-2027.

Proyeksi tersebut disampaikan Kiran Kowshik, Global FX Strategist Lombard Odier, yang menilai konsolidasi harga emas belakangan ini belum mengubah prospek bullish jangka menengah logam mulia.

Dalam analisanya, Kowshik menyebut harga emas sempat melonjak lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh rekor US$5.595 per ons pada Januari 2026 sebelum terkoreksi akibat konflik Timur Tengah dan turun ke titik terendah US$4.099 per ons pada pertengahan Maret.

Seperti dikutip KITCO, harga terakhir tercatat berada di sekitar US$4.560 per ons.

Menurutnya, pelemahan emas kali ini lebih dalam dibanding periode konflik geopolitik sebelumnya seperti Revolusi Iran 1979, Perang Teluk, hingga invasi Rusia ke Ukraina.

Sejak konflik dimulai, harga emas tercatat turun lebih dari 10% dengan volatilitas tinggi.

Kowshik mengatakan tekanan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan posisi beli investor yang terlalu padat di awal tahun. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung menguat saat imbal hasil riil turun dan dolar AS melemah.

Namun lonjakan harga energi akibat konflik justru mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral, mengangkat yield obligasi dan memperkuat dolar AS sehingga membebani emas.

Ia menilai apabila konflik Timur Tengah mereda dan harga energi turun sesuai skenario dasar Lombard Odier, harga emas berpeluang pulih seiring normalisasi posisi investor.

Meski demikian, Kowshik menegaskan perang Iran bukan satu-satunya faktor penentu harga emas.

Menurutnya, faktor fundamental dan kondisi makro global tetap mendukung kenaikan harga emas dalam jangka menengah.

Lombard Odier mempertahankan target harga emas 12 bulan di level US$5.400 per ons serta tetap mempertahankan posisi overweight pada portofolio emas.

Kowshik menilai investor perlu membedakan faktor struktural dan faktor jangka pendek dalam melihat pelemahan momentum emas saat ini.

Dari sisi struktural, permintaan emas dari bank sentral maupun investor swasta masih sangat kuat.

Ia menambahkan emas memiliki daya tarik sebagai aset riil karena pasokannya terbatas.

Total emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah diperkirakan sekitar 220 ribu ton, sementara produksi tambang baru hanya menambah sekitar 1% per tahun terhadap stok yang ada.

Selain itu, emas dinilai lebih aman dibanding mata uang karena tidak rentan terhadap sanksi finansial.

Sanksi AS terhadap Rusia disebut mempercepat keinginan bank sentral dunia untuk meningkatkan cadangan emas sebagai aset yang netral dan tetap bernilai.

Permintaan investor swasta juga didorong menurunnya kepercayaan terhadap sejumlah mata uang, ketidakpastian fiskal, dan inflasi yang masih tinggi.

Dalam kondisi tersebut, emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi, lemahnya pengelolaan fiskal pemerintah, hingga menurunnya kepercayaan terhadap institusi.

Kowshik mencatat sejak 2023 permintaan emas global rata-rata mencapai sekitar 620 ton per kuartal, jauh di atas rata-rata 450 ton pada periode 2010–2022.

Data World Gold Council menunjukkan total permintaan emas kuartal I-2026 mencapai 790 ton, dengan pembelian bersih bank sentral sebesar 244 ton atau naik 3% secara tahunan.

Permintaan fisik yang kuat, terutama dari China yang menyumbang sekitar 40% total permintaan, juga membantu menopang harga emas di tengah melemahnya aliran dana ETF.

Menurut Kowshik, pembelian bank sentral memiliki dampak besar dalam menciptakan dasar harga emas yang lebih kuat.

Setelah lama mengurangi cadangan emas pada periode 1980–2005, bank sentral kini kembali agresif membeli emas akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap sanksi keuangan AS.

Ia menambahkan negara berkembang masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa dibanding negara maju, sehingga tren pembelian diperkirakan akan terus berlanjut. (DK)