Standard Chartered: Malaysia memasuki krisis minyak global

Kamis, 21 Mei 2026

image

KUALA LUMPUR - Malaysia dinilai memasuki krisis minyak global saat ini dari posisi yang cukup kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang solid, aktivitas investasi yang tinggi, serta neraca pembayaran yang sehat, menurut Standard Chartered Bank.Dalam riset tertanggal 15 Mei, Standard Chartered menyebut ekonomi Malaysia tumbuh 5,4% secara tahunan pada kuartal I-2026.Seperti dikutip BUSINESSTODAY, pertumbuhan tersebut didorong permintaan domestik yang tetap kuat, ekspor yang resilien, serta peningkatan investasi seiring berlanjutnya siklus ekspansi teknologi global.Meski pertumbuhan secara kuartalan stagnan setelah mencatat ekspansi selama 12 kuartal berturut-turut, Standard Chartered tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia tahun 2026 sebesar 4,5%.Bank tersebut menilai ekspor jasa dan investasi swasta menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.Sektor pariwisata dan layanan informasi-komunikasi memberikan kontribusi besar terhadap ekspansi ekonomi.Ekspor jasa tercatat menyumbang 2,1 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB kuartal I-2026, jauh di atas rata-rata 0,2 poin persentase pada periode 2017–2019.Sementara itu, investasi swasta dan publik masing-masing memberikan kontribusi sekitar 0,6 poin persentase lebih tinggi dibanding rata-rata sebelum pandemi.Kenaikan tersebut terutama didorong permintaan terkait pusat data dan peran Malaysia dalam rantai pasok elektronik global.Standard Chartered memperkirakan aktivitas investasi akan tetap kuat sepanjang 2026, ditopang arus investasi asing langsung (FDI) yang tinggi serta persetujuan investasi yang mencapai rekor RM427 miliar pada 2025.Sektor manufaktur juga mencatat pertumbuhan solid sebesar 5,9% secara tahunan.Produksi elektronik melonjak 16%, menjadi laju tercepat sejak 2022, seiring tingginya permintaan global terhadap semikonduktor dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).Laporan itu juga menyoroti meningkatnya kontribusi sektor informasi dan komunikasi yang menyumbang 0,6 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I.Dari sisi konsumsi, belanja rumah tangga dinilai tetap kuat berkat pertumbuhan upah, dukungan kebijakan berbasis pendapatan, serta program bantuan tunai pemerintah.Standard Chartered menilai program subsidi bahan bakar BUDI95 akan membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah tingginya harga minyak dan membatasi tekanan terhadap konsumsi.Di sektor eksternal, Malaysia mencatat surplus transaksi berjalan sebesar 3% terhadap PDB pada kuartal I-2026.Neraca jasa Malaysia juga tetap surplus untuk kuartal ketiga berturut-turut, didorong peningkatan penerimaan sektor pariwisata dan ekspor jasa manufaktur serta layanan infokom.Bank tersebut menyebut posisi neraca pembayaran Malaysia masih sehat di level 3,2% terhadap PDB meskipun terdapat arus keluar pada pos “errors and omissions”. Sebagian besar komponen lain tetap mencatat arus masuk positif.Investor asing juga terus memborong saham dan obligasi Malaysia sepanjang kuartal berjalan.Selain itu, investor domestik mulai merepatriasi kepemilikan saham luar negeri untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.Standard Chartered mempertahankan pandangan positif terhadap ringgit karena fundamental domestik yang kuat, arus devisa yang sehat, serta partisipasi investor asing yang terus berlanjut di pasar keuangan Malaysia.Lembaga riset itu juga menilai Bank Negara Malaysia kini mulai lebih fokus pada pengendalian inflasi setelah pertemuan kebijakan moneter terbaru.Perubahan kecil dalam pernyataan bank sentral, termasuk penggunaan frasa “appropriate and consistent” menggantikan “appropriate and supportive”, dinilai mengindikasikan pergeseran dari sikap netral.Menurut Standard Chartered, peluang kenaikan suku bunga kini meningkat apabila tekanan inflasi terus meluas dalam beberapa kuartal mendatang. (DK)