Goldman Sachs: Stok minyak dunia susut dengan kecepatan tertinggi
Kamis, 21 Mei 2026

JAKARTA - Persediaan minyak mentah dan produk turunannya di seluruh dunia menyusut dengan kecepatan tertinggi bulan ini seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah yang mengganggu pasokan, menurut Goldman Sachs.
Dalam laporan tertanggal 20 Mei, analis Goldman termasuk Yulia Zhestkova Grigsby dan Daan Struyven menyebutkan bahwa persediaan minyak yang terlihat telah berkurang hingga 8,7 juta barel per hari sepanjang Mei, hampir dua kali lipat dibanding rata-rata penurunan sejak konflik dimulai.
Seperti dikutip Bloomberg, mereka mengatakan pasar fisik minyak terus mengalami pengetatan karena ekspor melalui Selat Hormuz masih berada di level sangat rendah, hanya sekitar 5% dari kondisi normal.
Jalur perairan strategis tersebut saat ini terdampak blokade ganda oleh Iran dan Amerika Serikat.
Konflik di Timur Tengah telah mengguncang pasar energi global dan memicu gangguan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi ini menyebabkan cadangan minyak yang sebelumnya dikumpulkan sebelum perang terkuras dengan cepat.
Di saat yang sama, sejumlah pemerintah juga melepas cadangan strategis untuk menahan lonjakan harga energi.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, pekan lalu memperingatkan bahwa persediaan komersial minyak terus menyusut semakin cepat.
Badan tersebut juga memperkirakan pasar minyak akan tetap mengalami kekurangan pasokan serius hingga Oktober meskipun konflik segera berakhir.
Sekitar dua pertiga dari penurunan persediaan pada Mei dipicu oleh berkurangnya minyak yang berada di kapal tanker atau “oil on water”, karena penurunan ekspor lebih besar dibanding melemahnya impor.
Goldman juga mencatat perlambatan impor mulai meluas dari Asia ke Eropa, termasuk impor bahan bakar jet ke Eropa yang turun 60% dibanding rata-rata tahun 2025.
Meski begitu, Goldman menilai total persediaan global masih relatif stabil dibanding tahun lalu karena adanya cadangan besar yang sempat dibangun selama sembilan bulan sebelum perang pecah.
Di China, yang merupakan importir minyak mentah terbesar dunia, kilang-kilang dinilai mulai mengurangi minat membeli minyak mentah.
Hal itu terlihat dari penurunan tajam impor serta penjualan bahan bakar domestik yang anjlok 22% bulan lalu akibat lemahnya aktivitas ekonomi.
Sementara itu di Amerika Serikat, persediaan minyak nasional termasuk cadangan strategis turun drastis sebesar 17,8 juta barel pekan lalu menurut data resmi.
Penurunan tersebut dipicu ekspor yang mencapai rekor tertinggi, sementara stok di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, terus mendekati level minimum operasional.
Goldman juga memperkirakan musim liburan di AS yang dimulai akhir pekan ini akan meningkatkan permintaan bensin, diesel, dan bahan bakar jet.
Harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$106 per barel pada Kamis.
Meski sudah naik lebih dari 70% sejak awal tahun, harga tersebut masih berada di bawah puncak tertinggi selama perang yang sempat melampaui US$126 per barel. (DK)