Merugi US$4,9 miliar, SpaceX kejar valuasi fantastis lewat IPO
Kamis, 21 Mei 2026

JAKARTA - SpaceX resmi mengajukan dokumen penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), langkah ini berpotensi melahirkan IPO terbesar dalam sejarah sekaligus mendorong valuasi gabungan bisnis Musk menembus level fantastis.
Seperti dikutip Cnn, perusahaan roket dan satelit itu mengungkap detail keuangan, struktur bisnis, hingga susunan dewan direksi dalam prospektus setebal 277 halaman. SpaceX akan melantai di bursa dengan kode saham SPCX, namun belum mengungkap target dana yang ingin dihimpun maupun valuasi final perusahaan.
Di balik ambisi membangun koloni manusia di Mars dan basis permanen di Bulan, SpaceX justru membakar uang dalam jumlah besar.
Perusahaan mencatat pendapatan US$18,7 miliar sepanjang 2025, naik 33% dibanding tahun sebelumnya. Namun, SpaceX kembali mencatat rugi bersih US$4,9 miliar setelah sempat membukukan laba US$791 juta pada 2024.
Kerugian itu terutama dipicu lonjakan investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dari total belanja modal US$20,7 miliar tahun lalu, sekitar US$12,7 miliar dialokasikan untuk infrastruktur AI. Sementara US$4,2 miliar digunakan untuk pengembangan Starlink dan US$3,8 miliar untuk proyek luar angkasa lain, termasuk roket.
Dalam tiga bulan pertama tahun 2026, SpaceX sudah membakar dana US$10,1 miliar, dengan mayoritas atau US$7,7 miliar kembali diarahkan ke AI.
Meski rugi jumbo, SpaceX mengklaim peluang bisnisnya mencapai US$28,5 triliun, yang disebut perusahaan sebagai “the largest actionable total addressable market in human history.”
Potensi itu mencakup bisnis konektivitas Starlink, pusat data AI di luar angkasa, iklan digital, hingga aplikasi enterprise berbasis AI.
Prospektus juga menegaskan ambisi futuristis perusahaan. SpaceX menyatakan misinya adalah untuk membangun sistem dan teknologi yang diperlukan agar kehidupan menjadi multiplanet, untuk memahami hakikat sejati alam semesta, dan untuk menyebarkan cahaya kesadaran ke bintang-bintang.
IPO ini sekaligus memperlihatkan dominasi Elon Musk atas SpaceX. Musk menguasai 85,1% hak suara perusahaan melalui kombinasi saham biasa dan saham Kelas B dengan hak suara super. Struktur itu nyaris memastikan Musk tetap memegang kendali penuh pasca IPO.
Untuk pertama kalinya, SpaceX juga mengungkap jajaran dewan direksi perusahaan. Selain Musk dan Presiden sekaligus COO Gwynne Shotwell, kursi direksi diisi CFO Bret Johnsen, investor modal ventura Steve Jurvetson, Luke Nosek, Ira Ehrenpreis, Antonio Gracias, hingga eksekutif Google Donald Harrison.
Dokumen IPO juga membongkar skema kompensasi fantastis untuk Musk. Pendiri SpaceX itu hanya menerima gaji tahunan US$54.080 sejak 2019.
Namun, ia berpeluang memperoleh ratusan juta saham tambahan jika SpaceX mencapai valuasi hingga US$7,5 triliun dan berhasil membangun koloni permanen manusia di Mars dengan populasi minimal satu juta orang.
SpaceX menyebut Musk juga akan mendapat tambahan 302 juta saham apabila perusahaan berhasil mencapai target valuasi tertentu dan meluncurkan pusat data AI dengan kapasitas komputasi hingga 100 terawatt per tahun. (DH)