Intelijen AS: Iran bangun lagi industri militernya lebih cepat
Jumat, 22 Mei 2026
JAKARTA - Iran dilaporkan mampu memulihkan industri pertahanannya jauh lebih cepat dari perkiraan intelijen Barat. Bahkan, Teheran disebut telah kembali memproduksi drone tempur hanya beberapa pekan setelah gencatan senjata dimulai pada awal April.
Laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip CNN menyebut Iran mulai mengaktifkan kembali sebagian fasilitas produksinya selama masa jeda konflik enam minggu.
Temuan itu memunculkan kekhawatiran baru di Washington karena kemampuan militer Iran dinilai belum lumpuh sepenuhnya, meski serangan udara besar-besaran telah menghantam infrastruktur pertahanan negara tersebut.
Seperti dikutip Cnn, empat sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengatakan pemulihan cepat itu mencakup pembangunan ulang lokasi peluncur rudal, fasilitas produksi senjata, hingga kemampuan manufaktur sistem persenjataan utama yang sebelumnya dihancurkan dalam operasi militer AS-Israel.
“Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi,” kata seorang pejabat AS kepada CNN.
Intelijen AS bahkan memperkirakan Iran bisa memulihkan penuh kapasitas serangan drone dalam waktu sekitar enam bulan.
Ancaman itu dinilai serius karena Iran berpotensi mengganti pelemahan stok rudalnya dengan serangan drone jarak jauh terhadap Israel dan negara-negara Teluk.
Presiden Donald Trump, sebelumnya berulang kali mengancam akan melanjutkan operasi militer jika negosiasi penghentian perang gagal tercapai. Kondisi itu membuat kebangkitan cepat industri pertahanan Iran menjadi perhatian utama sekutu Washington di kawasan Timur Tengah.
Menurut sumber intelijen AS, pemulihan cepat Iran dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari dukungan teknologi dan komponen dari Rusia serta China hingga kerusakan yang dinilai tidak separah klaim awal AS-Israel.
Dua sumber mengatakan China masih memasok komponen yang dapat digunakan untuk memproduksi rudal selama konflik berlangsung, meski aliran tersebut disebut mulai terhambat akibat blokade AS.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menuding Beijing membantu Iran dalam produksi rudal. “komponen pembuatan rudal,” ujar Netanyahu kepada CBS.
Namun, tuduhan itu dibantah Kementerian Luar Negeri China. Juru bicara pemerintah China, Guo Jiakun, menyebut klaim tersebut “Tidak berdasarkan fakta.”
Laporan intelijen terbaru juga menunjukkan sekitar dua pertiga peluncur rudal Iran masih bertahan setelah serangan AS. Sebagian bahkan berhasil digali kembali selama masa gencatan senjata berlangsung.
Selain itu, sekitar 50% armada drone Iran disebut masih utuh, termasuk sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai yang menjadi senjata penting Teheran untuk mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper tetap mengklaim operasi militer AS telah melumpuhkan sebagian besar basis industri pertahanan Iran.
“Operasi Epic Fury secara signifikan melemahkan rudal balistik dan drone Iran sekaligus menghancurkan 90% basis industri pertahanan mereka, memastikan Iran tidak dapat membangun kembali kekuatan militernya selama bertahun-tahun,” kata Cooper dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Namun, dua sumber intelijen mengatakan penilaian internal pemerintah AS justru menunjukkan Iran kemungkinan hanya membutuhkan waktu beberapa bulan, bukan bertahun-tahun, untuk kembali membangun kemampuan militernya.(DH)