Otomatisasi kerap salah baca stok, Starbucks hentikan pakai AI

Jumat, 22 Mei 2026

image

JAKARTA - Starbucks menghentikan penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) untuk pencatatan inventaris di seluruh Amerika Utara, hanya sembilan bulan setelah teknologi tersebut diluncurkan secara luas di gerai-gerainya. Keputusan ini menyoroti tantangan besar dalam upaya transformasi digital perusahaan di bawah CEO Brian Niccol.

Seperti dikutip Reuters, program yang disebut Automated Counting itu awalnya menjadi bagian dari strategi Niccol untuk mengatasi masalah kekurangan produk yang selama ini menekan penjualan.

Namun, sistem AI tersebut justru kerap salah membaca stok, termasuk keliru membedakan jenis susu hingga gagal mencatat item tertentu.

“Mulai hari ini, Penghitungan Otomatis akan dihentikan,” demikian isi buletin internal perusahaan yang diulas Reuters.

“Komponen minuman dan susu sekarang akan dihitung dengan cara yang sama seperti Anda menghitung kategori inventaris lainnya di kedai kopi Anda.”

Dalam pernyataan terpisah kepada Reuters, Starbucks menyebut penghentian program bukan karena kegagalan teknologi semata, melainkan upaya standarisasi operasional.

Dalam pernyataan kepada Reuters pada hari Kamis, Starbucks mengatakan bahwa penghentian program tersebut yang mencakup susu dan produk minuman lainnya berasal dari keputusan untuk  menstandarisasi cara penghitungan inventaris di seluruh kedai kopi karena kami terus fokus pada konsistensi dan pelaksanaan dalam skala besar.

Perusahaan juga menegaskan strategi rantai pasok tetap menjadi fokus utama, termasuk peningkatan frekuensi pengiriman ke gerai dan perbaikan sistem distribusi.

“Tujuan kami sederhana, jika ada di menu, pelanggan harus bisa memesannya,” kata perusahaan.

Sebelumnya, Starbucks meluncurkan teknologi ini secara agresif pada September sebagai bagian dari upaya modernisasi operasional.

Sistem tersebut menggunakan kamera dan teknologi LIDAR untuk memindai rak dan menghitung stok secara otomatis.

Namun, dalam praktiknya, teknologi ini tidak berjalan mulus. Dalam laporan sebelumnya, sistem disebut kerap gagal mengenali produk, termasuk tidak mendeteksi botol sirup tertentu di rak.

Meski demikian, Starbucks tetap menegaskan teknologi AI masih menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan di bawah program “Kembali ke Starbucks”, yang mencakup otomatisasi pesanan hingga optimasi operasional gerai.

CEO Brian Niccol, yang dikenal dengan rekam jejak restrukturisasi di industri restoran cepat saji, kini berada di bawah tekanan untuk menjaga momentum pertumbuhan penjualan sekaligus memperbaiki margin keuntungan di Amerika Utara yang justru menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Analis Morningstar menilai inisiatif teknologi seperti AI inventory tracking tetap berpotensi meningkatkan efisiensi jangka panjang, meski implementasinya masih menghadapi hambatan di lapangan. (DH)