IHSG rawan jebol 6.000 imbas beragam sentimen negatif

Jumat, 22 Mei 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguji level 6.000 pada perdagangan Jumat (22/5), setelah selama 8 hari melemah secara berturut-turut.

Analis Phintraco Sekuritas menilai IHSG kekurangan katalis positif, akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi.

Dari sisi eksternal, IHSG disebut menghadapi dampak dari rebalancing MSCI dan FTSE, yang mendorong keluarnya dana aktif dari saham-saham penghuni indeks global tersebut.

Sedangkan dari dalam negeri, investor dinilai merespons negatif atas sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia untuk sektor Sumber Daya Alam (SDA), termasuk pembatasan ekspor melalui entitas di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

“Karena dinilai berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor.

Sentimen pasar dalam negeri juga datang dari institusi global seperti Fitch Ratings dan S&P Global Ratings, yang merespons kebijakan ekspor SDA lewat satu pintu di Indonesia.

Masing-masing menilai kebijakan baru Indonesia berpotensi menekan peringkat jangka panjang bank-bank milik negara, serta emiten tambang milik swasta.

Secara teknikal, analis Phintraco menilai IHSG telah menutup gap di 6.092. “Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000,” jelas analis Phintraco, dengan menekankan support terkuat bagi IHSG berikutnya di 5.882.  

Sementara itu analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya hari ini, menilai IHSG masih berada dalam tren bearish, dengan support terdekat di area 6.000 dan support lanjutan 5.900 dan resistance di kisaran 6.400.

“Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data Current Account Balance dan M2 Money Supply,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas. (KR)