Selat Hormuz belum normal, OPEC+ tetap naikkan produksi minyak?

Jumat, 22 Mei 2026

image

JAKARTA - Kelompok produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan menyepakati kenaikan kecil produksi minyak untuk Juli 2026, meski gangguan pasokan masih terjadi akibat perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz.

Seperti dikutip Reuters, empat sumber yang mengetahui pembahasan internal mengatakan tujuh negara produsen utama OPEC+ akan menaikkan target produksi sekitar 188.000 barel per hari dalam pertemuan 7 Juni mendatang. Namun, keputusan final belum diambil.

Tujuh negara penghasil minyak utama OPEC+ kemungkinan akan menyetujui kenaikan produksi yang moderat untuk bulan Juli ketika mereka bertemu pada 7 Juni, menurut empat sumber, meskipun pengiriman untuk beberapa negara masih terganggu oleh perang Iran.

Langkah ini melanjutkan tren kenaikan bertahap sejak April 2026, setelah OPEC+ sempat menahan produksi pada kuartal pertama tahun ini. Meski demikian, skala kenaikan mulai diperkecil sejak Mei setelah keluarnya Uni Emirat Arab dari aliansi tersebut.

Target bulanan yang ditetapkan oleh tujuh anggota inti OPEC+ diperkirakan akan dinaikkan sekitar 188.000 barel per hari, kata sumber tersebut.

Para analis menilai keluarnya Uni Emirat Arab dapat mengurangi kekuatan kelompok dalam mengendalikan pasar, meski di sisi lain berpotensi memperkuat konsolidasi internal.

Gangguan terbesar dalam periode ini datang dari perang Iran yang mengganggu jalur distribusi dan produksi beberapa negara anggota. Beberapa produsen Teluk yang biasanya memiliki kapasitas cadangan kini ikut terdampak, termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan sebelumnya Uni Emirat Arab.

Output produsen Teluk turun 9,9 juta barel per hari, menurut data OPEC, dari 42,77 juta barel per hari pada Februari menjadi 33,19 juta barel per hari pada April.

Meski tekanan geopolitik meningkat, OPEC+ tetap melanjutkan rencana penyesuaian produksi secara bertahap. Namun, dua pertemuan lain yang dijadwalkan pada 7 Juni tidak diperkirakan menghasilkan perubahan kebijakan tambahan.

Pengurangan produksi sebesar 2 juta barel per hari yang disepakati pada tahun 2022, yang berlaku untuk seluruh grup, dijadwalkan akan tetap berlaku hingga akhir tahun 2026.

Di tengah dinamika itu, struktur OPEC+ yang terdiri dari 21 anggota termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Kazakhstan, Aljazair, Kuwait, dan Oman terus menghadapi tekanan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pasokan global di tengah risiko geopolitik yang meningkat.(DH)