Dolar AS menguat level tertinggi selama enam minggu

Jumat, 22 Mei 2026

image

NEW YORK - Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam minggu pada perdagangan Jumat setelah pasar mengalami volatilitas tinggi akibat sinyal yang saling bertentangan terkait pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Seperti dikutip Reuters, meski situasi masih belum jelas, investor tetap berharap adanya kemajuan dalam negosiasi kedua negara.

Amerika Serikat dan Iran masih berbeda pandangan mengenai cadangan uranium Iran serta kendali atas Selat Hormuz. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut pembicaraan menunjukkan beberapa perkembangan positif.

Perbedaan pernyataan dari kedua pihak sempat mengguncang pasar global semalam, walaupun perdagangan mata uang di sesi Asia cenderung lebih tenang karena pelaku pasar memilih menunggu kepastian lebih lanjut.

Indeks dolar AS naik tipis ke level 99,24 terhadap sekeranjang mata uang utama, tidak jauh dari posisi tertinggi sebelumnya di 99,515 yang menjadi level tertinggi sejak 7 April.

Euro melemah tipis ke US$1,1613, sedangkan poundsterling bergerak stabil di US$1,3431.

Meski demikian, sterling diperkirakan masih mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,8% setelah sebelumnya sempat tertekan akibat ketidakpastian politik di Inggris.

Penguatan dolar juga didukung data ekonomi AS yang menunjukkan klaim pengangguran mingguan menurun dan aktivitas manufaktur meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun pada Mei.

Kondisi ini memperlihatkan ekonomi AS masih cukup solid.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda penyelesaian yang jelas.

Menurutnya, dolar AS masih berpotensi menguat karena situasi geopolitik dapat memicu langkah yang lebih agresif dari Amerika Serikat.

Di pasar lainnya, dolar Australia turun tipis ke US$0,7145, sementara dolar Selandia Baru diperdagangkan di level US$0,5873.

Yen Jepang kembali berada di bawah tekanan akibat kuatnya dolar AS dan tingginya harga minyak dunia.

Mata uang Jepang tersebut melemah ke atas level 159 per dolar AS meski Tokyo diduga telah melakukan intervensi beberapa waktu lalu untuk menopang yen.

Kepala strategi pasar Ebury, Matthew Ryan, mengatakan yen kini telah kehilangan lebih dari separuh penguatan pasca intervensi, sehingga risiko intervensi lanjutan dari otoritas Jepang semakin meningkat.

Data terbaru juga menunjukkan inflasi inti Jepang melambat ke level terendah dalam empat tahun pada April, yang semakin mempersulit arah kebijakan suku bunga Bank of Japan.

Mata uang negara berkembang di Asia turut mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak global.

Indonesia bahkan mengambil langkah khusus dengan memperketat kontrol negara atas sumber daya alam dan mewajibkan eksportir menyimpan seluruh devisa hasil ekspor di bank milik negara mulai 1 Juni guna menopang rupiah.

Nigel Foo dari First Sentier Investors menilai kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan pasokan dolar AS di pasar domestik demi membantu menstabilkan rupiah yang terus melemah.

Menurutnya, nilai mata uang mencerminkan fundamental ekonomi suatu negara, dan kondisi fundamental Indonesia dinilai tengah mengalami penurunan. (DK)