Lonjakan yield obligasi AS picu aksi jual besar-besaran

Jumat, 22 Mei 2026

image

JAKARTA - Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memicu tekanan baru di pasar keuangan global setelah investor surat utang berbasis hipotek ramai-ramai melakukan lindung nilai dengan menjual obligasi Treasury.

Aksi jual itu memperburuk gejolak pasar obligasi pekan ini dan mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang AS ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Imbal hasil Treasury AS melonjak setelah data inflasi April keluar lebih tinggi dari ekspektasi pasar, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini alih-alih memangkasnya.

Seperti dikutip Reuters, yield obligasi tenor 10 tahun naik 23 basis poin hanya dalam sepekan dan kini telah melonjak lebih dari 60 basis poin sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran.

Tekanan tersebut memaksa investor mortgage-backed securities (MBS) meningkatkan aktivitas “lindung nilai konveksitas”, yakni strategi lindung nilai yang biasanya dilakukan dengan menjual kontrak Treasury futures untuk mengurangi risiko portofolio saat suku bunga naik.

"Kecepatan pergerakan imbal hasil sangat mengkhawatirkan dan kami telah melihat beberapa aksi jual paksa karena lindung nilai konveksitas," kata Vishal Khanduja dari Morgan Stanley Investment Management.

Fenomena ini terjadi karena kenaikan suku bunga membuat pemilik rumah di AS enggan melakukan refinancing kredit pemilikan rumah. Akibatnya, arus pembayaran pokok kredit melambat dan durasi MBS menjadi lebih panjang serta lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga.

Berbeda dengan obligasi biasa yang memiliki convexity positif, MBS memiliki “kecembungan negatif”, yang membuat harga instrumen tersebut turun lebih tajam ketika yield naik.

Investor besar seperti perusahaan asuransi dan REIT kemudian merespons dengan menjual Treasury futures untuk menekan risiko durasi portofolio mereka.

Data CME Group menunjukkan transaksi besar di kontrak Treasury tenor lima hingga 10 tahun melonjak tajam pekan ini. Salah satu transaksi bahkan mencapai 33.000 kontrak, jauh di atas transaksi normal yang biasanya hanya berkisar 5.000 hingga 8.000 kontrak.

Selain inflasi dan perang Iran, pengurangan neraca The Fed atau quantitative tightening (QT) juga memperkuat tekanan di pasar obligasi.

Saat ini The Fed membiarkan sekitar US$35 miliar MBS jatuh tempo setiap bulan tanpa membeli kembali aset serupa, sehingga risiko negative convexity yang sebelumnya terserap di neraca bank sentral kini kembali berpindah ke pasar.

"Hal ini secara efektif memindahkan konveksitas negatif MBS dari neraca The Fed kembali ke pasar," kata Harley Bassman dari Simplify Asset Management.

Analis Barclays menyebut aktivitas convexity hedging tahun ini menjadi salah satu pendorong utama volatilitas pasar obligasi AS dan bahkan lebih destabilizing dibanding periode 2023.

Pasar kini menampung lebih dari US$2 triliun MBS dengan kupon bunga 5% atau lebih tinggi. Ketika yield naik, instrumen tersebut menjadi semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga dan memicu kebutuhan lindung nilai yang lebih agresif.(DH)