Inpex percepat proyek LNG Abadi US$20 miliar di Indonesia, mengapa?

Jumat, 22 Mei 2026

image

JAKARTA - Inpex mempercepat langkah menuju keputusan investasi final atau FID untuk proyek gas raksasa Abadi LNG di Indonesia yang nilainya diperkirakan melampaui US$20 miliar.

Seperti dikutip Upstreamonline, proyek strategis di Blok Masela itu menjadi salah satu megaproyek energi terbesar di Asia Pasifik dan ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, ditambah 150 juta kaki kubik gas per hari untuk kebutuhan domestik Indonesia.

Selain LNG, lapangan Abadi juga diproyeksikan menghasilkan sekitar 35.000 barel kondensat per hari pada puncak produksi.

Operator proyek menargetkan FID pada 2027, meski pemerintah Indonesia terus mendorong keputusan investasi dapat diambil lebih cepat sebelum akhir tahun ini.

Sebagai bagian dari percepatan proyek, Inpex mengumumkan telah mencapai kesepakatan prinsip penjualan LNG dengan empat perusahaan besar, yakni BP, Perusahaan Gas Negara, PLN Energi Primer Indonesia, dan Shell Eastern Trading.

Kesepakatan awal tersebut akan dilanjutkan ke tahap finalisasi sales and purchase agreement (SPA) yang diperkirakan mencakup sebagian besar produksi LNG dari proyek Abadi.

“Kesepakatan prinsip terkait pengambilan LNG merupakan tonggak penting bagi proyek ini dan berkontribusi pada kemajuan yang stabil menuju keputusan investasi akhir,” kata Inpex.

Perusahaan juga mencapai kesepakatan prinsip pasokan gas dengan Pupuk Indonesia untuk distribusi gas pipa dari proyek tersebut.

Menurut Inpex, pembahasan penjualan LNG dan gas domestik sejalan dengan strategi pemerintah Indonesia dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus menopang pertumbuhan kebutuhan energi di kawasan Asia Pasifik.

Di sisi teknis, proses FEED atau front-end engineering and design untuk berbagai paket proyek terus berjalan. Sejumlah tender kontrak EPCI utama bahkan telah diluncurkan.

Pengerjaan FEED untuk fasilitas terapung FPSO dilakukan oleh dua konsorsium besar yang melibatkan Technip Energies, Saipem, McDermott, hingga Tripatra. Sementara fasilitas liquefaction darat ditangani konsorsium yang dipimpin JGC, KBR, Samsung E&A, dan Adhi Karya.

Adapun FEED untuk sistem pipa gas, SURF, serta fasilitas carbon capture and storage dipimpin oleh Worley. Struktur kepemilikan proyek Abadi terdiri dari Inpex sebesar 65%, Pertamina Hulu Energi 20%, dan Petronas sebesar 15%.(DH)

.