AmericanFortress: Skema kuantum bisa amankan 1,1 juta bitcoin Satoshi
Jumat, 22 Mei 2026

WASHINGTON - Peneliti dari AmericanFortress memperkenalkan skema tanda tangan pasca-kuantum (post-quantum signature scheme) yang masih dalam tahap paten, yang diklaim dapat mengamankan ekosistem kripto global dari serangan komputer kuantum di masa depan tanpa perlu memindahkan dana secara besar-besaran.
Menurut perusahaan tersebut, terobosan ini memungkinkan bahkan simpanan besar milik Satoshi Nakamoto sekitar 1,1 juta bitcoin (BTC), serta hampir 5 juta BTC di akun yang tidak aktif, tetap bisa diamankan.
Seperti dikutip CoinDesk, total nilainya diperkirakan mencapai sekitar 400 miliar dolar AS.
Dalam wawancara dengan CoinDesk, CEO AmericanFortress, Michal Pospieszalski, menjelaskan bahwa dompet yang tidak aktif tidak harus dibiarkan rentan terhadap peretas yang bisa mengambil aset tersebut dan menjualnya ke pasar, yang berpotensi menimbulkan dampak besar.
Namun ia menyoroti adanya kebingungan terkait Bitcoin lama.
Menurutnya, dompet era Satoshi yang merupakan alamat “Pre-BIP32” tidak memiliki seed phrase derivation, sehingga tidak bisa diperbarui secara otomatis seperti dompet modern.
Sebagai gantinya, protokol AmericanFortress akan melakukan pembekuan protektif melalui soft fork yang kompatibel ke belakang.
“Protokol kami yang tahan kuantum akan secara otomatis membekukan dan melindungi dana tersebut sampai komunitas tata kelola memutuskan apa yang harus dilakukan setelah ‘Q-day’,” kata Pospieszalski.
Ia menambahkan bahwa nantinya komunitas bisa memilih untuk memindahkan, membakar, atau mendistribusikan ulang aset yang dibekukan.
Ia juga menyebut bahwa dompet Satoshi tetap bisa dilindungi melalui pembaruan BIP kecil yang sedang mereka kembangkan.
Ia juga menyatakan bahwa pendekatan ini tidak hanya berlaku untuk Bitcoin, tetapi juga untuk blockchain lain seperti Ethereum, Solana, dan Tron.
Pengumuman ini muncul setelah perusahaan mengamankan pendanaan awal sebesar 8 juta dolar AS dari SAVA Digital Asset Fund, Moon Pursuit Capital, dan 0G Labs.
Bersamaan dengan pendanaan tersebut, mereka merilis makalah kriptografi yang membahas hambatan kinerja pada eksperimen keamanan pasca-kuantum sebelumnya.
Dalam uji keamanan kuantum pada BNB Chain, sistem tersebut berhasil tetapi menurunkan throughput transaksi hingga 40%.
Berbeda dari pendekatan tradisional yang memerlukan blockchain baru atau migrasi alamat besar-besaran, AmericanFortress menggunakan zero-knowledge proof (ZK) untuk membuktikan kepemilikan seed utama saat transaksi dilakukan.
Mereka menawarkan tiga pendekatan: perlindungan kunci mentah Pre-BIP32, perlindungan kuantum standar BIP32, dan skema derivasi cepat “QBIP32”.
Perusahaan mengklaim bahwa karena sistem ini terintegrasi langsung dengan kriptografi yang sudah ada, tidak ada penurunan performa yang signifikan, dan hanya membutuhkan pembaruan perangkat lunak node serta wallet.
Pospieszalski juga menyebut bahwa ancaman kuantum bersifat terpusat pada aset kripto tertentu, terutama ketika kunci publik sudah terekspos di blockchain.
Ia mengklaim bahwa lebih dari 600 miliar dolar aset kripto berada dalam kondisi rentan, termasuk seluruh alamat Solana.
Untuk pengguna aktif, migrasi ke sistem tahan kuantum diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 50 milidetik melalui prompt di wallet. Sementara untuk dompet lama, perlindungan dapat dilakukan di lapisan dasar protokol.
Ia menambahkan bahwa biaya implementasi sistem ini sangat rendah, setara dengan satu transaksi rollup, bukan per transaksi historis.
AmericanFortress juga dikabarkan sedang melisensikan SDK mereka ke berbagai blockchain Layer 1 dan Layer 2, dengan opsi akuisisi eksklusif terbuka.
Teknologi kriptografi Bitcoin ini disebut akan siap dibahas dalam beberapa minggu ke depan, sebelum presentasi resmi pada 2 Juni di Paris.
Menurut Pospieszalski, ini bisa menjadi titik penting bagi masa depan aset digital, karena “Bitcoin yang tahan kuantum kini sudah dimungkinkan.” (DK)