Bitcoin turun dari US$104.000 ke US$98.000 akibat aksi jual massal
Jumat, 14 November 2025

JAKARTA - Harga bitcoin merosot tajam hari ini, turun dari level tertinggi intraday US$104.000 ke US$98.113, menghapus seluruh kenaikan sebelumnya dan menandai penurunan signifikan dalam pergerakan harga.Sejak awal sesi perdagangan pagi, harga bitcoin terus melemah dari kisaran US$102.000 atas hingga mencapai titik terendah US$97.870.Menurut data Bitcoin Magazine Pro, terakhir kali harga bitcoin berada di bawah US$98.000 adalah pada awal Mei, sekitar 8 Mei, tergantung zona waktu.Setelah itu, bitcoin bertahan di atas US$100.000 selama lebih dari 40 hari sebelum kembali turun ke level US$98.000 pada akhir Juni.Seperti dikutip bitcoinmagazine.com, salah satu faktor yang memicu tekanan jual adalah aksi lepas aset dari para pemegang jangka panjang.Data CryptoQuant menunjukkan mereka telah menjual sekitar 815.000 BTC dalam 30 hari terakhir, tertinggi sejak awal 2024, sementara permintaan spot dan ETF melemah.Aktivitas ambil untung mendominasi, dengan realisasi keuntungan mencapai US$3 miliar hanya pada 7 November.Pembelian institusi juga turun di bawah tingkat pasokan harian hasil penambangan, memperbesar tekanan jual.Saat ini harga bergerak di dekat moving average 365 hari di sekitar US$102.000, dan kegagalan bertahan di atas level tersebut dapat memicu penurunan lebih dalam menurut analisis Bitcoin Magazine Pro.Analis Bitfinex mencatat bahwa koreksi saat ini menyerupai pola retracement pertengahan siklus sebelumnya, di mana penurunan dari puncak Oktober sejalan dengan rata-rata koreksi 22% pada pasar bullish 2023–2025.“Meskipun harga berada di sekitar US$100.000, sekitar 72% dari total suplai BTC masih dalam kondisi untung,” tulis analis Bitfinex kepada Bitcoin Magazine.Mereka memperkirakan akan ada reli teknikal jangka pendek, namun pemulihan berkelanjutan membutuhkan masuknya permintaan baru.The Block melaporkan bahwa analis JPMorgan menilai biaya produksi bitcoin saat ini diperkirakan berada di sekitar US$94.000, yang secara historis berfungsi sebagai batas bawah harga.Mereka menilai meningkatnya tingkat kesulitan jaringan telah mendorong biaya produksi lebih tinggi, menjaga rasio harga terhadap biaya mendekati level terendah historis.JPMorgan tetap mempertahankan proyeksi bullish 6–12 bulan ke depan di kisaran US$170.000.Penurunan harga bitcoin ini terjadi bersamaan dengan dibukanya kembali pemerintahan AS setelah penutupan selama 43 hari, terpanjang dalam sejarah, menyusul penandatanganan rancangan anggaran oleh Presiden Donald Trump pada Rabu malam.Meski operasional federal mulai pulih, proses pemulihan akan berjalan lambat. Banyak pegawai federal masih menunggu pembayaran tertunda, dan penundaan perjalanan udara kemungkinan berlanjut.Timot Lamarre, Direktur r
Riset Pasar di Unchained, menggambarkan bitcoin sebagai “alarm dini” bagi kondisi likuiditas pasar.Ia mencatat bahwa penutupan pemerintahan menyebabkan kas pemerintah (Treasury General Account) membengkak dan menyerap likuiditas, namun pembukaan kembali pemerintahan berpotensi menyuntikkan kembali likuiditas yang dapat mendorong harga bitcoin dalam jangka pendek.Lembaga seperti IRS menghadapi tumpukan pekerjaan besar, sementara taman nasional berjuang memulihkan pendapatan yang hilang. Pendanaan sementara ini hanya berlaku hingga 30 Januari, sehingga ancaman penutupan kembali masih membayangi.Pemulihan menuju kondisi normal diperkirakan memakan waktu karena dampak penutupan panjang masih terasa di berbagai sektor ekonomi dan layanan publik.Harga bitcoin sempat melesat memasuki Oktober ketika shutdown dimulai, menembus rekor tertinggi di atas US$126.000.Namun euforia cepat mereda, dan harga bergerak liar sepanjang Oktober hingga memasuki November.Saat ini, harga bitcoin berada di US$98.470, meski sentimen pasar masih cenderung bullish, harga bitcoin terus merosot lebih dalam sepanjang bulan ini. (DK)