Trump tunda perintah ekesekutif terkait AI

Sabtu, 23 Mei 2026

image

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (21/5/26) menunda penandatanganan perintah eksekutif terkait AI karena ia tidak menyukai beberapa bagiannya dan tidak ingin mengambil langkah apa pun yang dapat melemahkan posisi AS dalam persaingan AI dengan China.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/5/26), Trump sebelumnya berencana menandatangani perintah tersebut dalam sebuah acara pada Kamis sore yang dihadiri para CEO perusahaan AI.

Media AS termasuk Semafor dan Washington Post melaporkan bahwa rencana pemerintahan tersebut ditunda setelah adanya dorongan dari pendiri xAI Elon Musk, CEO Meta Mark Zuckerberg, serta mantan penasihat AI Trump, David Sacks.

Menanggapi unggahan di X mengenai laporan tersebut, Musk berkata, “Ini salah. Saya masih tidak tahu apa isi EO itu dan presiden baru berbicara dengan saya setelah memutuskan tidak menandatanganinya.”

Meta dan firma modal ventura milik Sacks, Craft Ventures, tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters di luar jam kerja normal.

Menghambat AI Amerika?

“Saya pikir itu justru menghambat, Anda tahu, kita memimpin China, kita memimpin semua orang, dan saya tidak ingin melakukan apa pun yang bisa mengganggu posisi unggul itu,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.

Menurut dua sumber yang mengetahui isi perintah itu dan berbicara kepada Reuters pada Rabu, perintah tersebut akan menciptakan kerangka kerja sukarela bagi pengembang AI untuk berinteraksi dengan pemerintah AS sebelum merilis model AI canggih ke publik.

Trump tidak menjelaskan bagian mana dari perintah eksekutif tersebut yang ia tolak. Para pendukung industri teknologi khawatir ketentuan dalam aturan itu dapat mengurangi keuntungan industri jika memperlambat peluncuran model baru atau memaksa perusahaan mengubah cara kerja model mereka demi mengatasi kekhawatiran keamanan.

Presiden juga berencana mengarahkan pemerintah AS untuk menggunakan model AI canggih guna meningkatkan pertahanan keamanan siber sistem pemerintah, termasuk jaringan milik sektor-sektor vital bagi ekonomi seperti bank dan rumah sakit, menurut sumber lain.

Kekhawatiran mengenai risiko keamanan siber dari sistem AI baru yang sangat kuat semakin meningkat di pemerintahan AS maupun sektor swasta, termasuk terhadap model Anthropic bernama Mythos.

Anthropic telah memperingatkan bahwa Mythos dapat memperkuat serangan siber kompleks, meskipun para pakar keamanan siber mengatakan kepada Reuters bahwa kekhawatiran tentang peretasan tanpa batas terlalu dibesar-besarkan.

Sejak kembali berkuasa, Trump mengambil sikap yang lebih lunak terhadap perusahaan Big Tech dibanding pemerintahan pendahulunya, Joe Biden, terutama dengan munculnya AI dan perannya yang sangat besar di pasar saham AS.

Namun, beberapa pendukung utama Trump tetap menyerukan adanya pagar pengaman (guardrails) yang lebih kuat. (YS)