Emoji tengkorak: Di balik runtuhnya mega merger Estee Lauder dan Puig
Minggu, 24 Mei 2026
LONDON -- Dua dinasti kecantikan dunia diam-diam selama berbulan-bulan membangun sesuatu yang ambisius: merger perusahaan kecantikan mewah yang akan menjadi raksasa senilai US$40 miliar
Mega merger ini, seperti dikutip Reuters, (23/05/26), akan menyatukan merek-merek ikonik di bawah satu atap. Brand Tom Ford, Clinique, dan MAC Cosmetics dari Amerika, akan berpadu dengan Carolina Herrera serta Charlotte Tilbury dari Spanyol, yang belakangan populer di kalangan influencer TikTok dan generasi milenial kaya.
Namun, pada Kamis malam (21/5/26), semua rencana itu runtuh.
Diskusi antara produsen kosmetik AS Estée Lauder dan grup parfum Spanyol Puig dimulai sejak akhir tahun lalu, kata salah satu dari lima orang yang mengetahui langsung proses tersebut kepada Reuters.
Negosiasi yang berlangsung berbulan-bulan itu mencakup pertemuan di Paris, New York, dan Barcelona. Kedua pihak bahkan sempat mencapai kesepakatan prinsip mengenai sejumlah isu besar:
Tiga sumber mengatakan bahwa kedua grup sebenarnya sudah beberapa kali hampir mengumumkan merger.
Ketika kabar negosiasi akhirnya bocor ke publik pada Maret, investor bereaksi berbeda di dua sisi belahan Atlantik.
Saham Puig melonjak, pasar memandang kesepakatan ini lebih menguntungkan bagi pihak Spanyol. Sebaliknya, saham Estée Lauder langsung turun di bursa saham New York.
Komplikasi yang Menumpuk
Di balik optimisme permukaan, sejumlah masalah struktural terus membayangi.
Kedua keluarga pendiri, keluarga Lauder dan keluarga Puig, sama-sama ingin tetap memiliki pengaruh dalam grup baru, menurut dua sumber.
Ketidaksepakatan soal tata kelola ini menjadi salah satu gesekan yang sulit diselesaikan.
Kedua perusahaan juga kesulitan menyusun struktur kepemilikan atas aset-aset yang tidak dimiliki Puig secara penuh: Charlotte Tilbury dan merek perawatan kulit Isdin.
“Kedua aset yang merupakan pendorong utama keuntungan Puig tetap menggantung sebagai titik buntu,” kata dua sumber lainnya.
Di sisi lain, ketidaksukaan investor Estée Lauder terhadap kesepakatan ini semakin menekan negosiasi.
Namun. lembalinya kinerja Estée Lauder pada pertumbuhan laba yang lebih kuat di kuartal terbaru turut meningkatkan kepercayaan diri manajemen untuk tetap berdiri sendiri, menurut tiga sumber.
Bahkan, seperti dikutip dari Bloomberg, manajemen Estée Lauder masih menugaskan tim penasihat untuk bekerja sepanjang akhir pekan lalu, menyiapkan dokumen valuasi bersama yang diminta oleh regulator pasar saham Spanyol sebagai bagian dari syarat keterbukaan transaksi.
Batu sandungan terakhir yang menjadi fatal datang dari Charlotte Tilbury.
Pendiri merek kecantikan yang namanya kini menjadi merek dagang global itu masih memegang saham minoritas di perusahaannya, setelah Puig mengakuisisi mayoritas saham pada 2020.
Menjelang penutupan kesepakatan, tuntutan Tilbury mengenai syarat kepemilikan saham minoritasnya muncul sebagai hambatan yang tidak bisa diatasi, kata kelima sumber.
Perusahaan Charlotte Tilbury menolak berkomentar.
Kebocoran informasi, ketidaksepakatan antar keluarga pengendali, dan tuntutan-tuntutan tersebut akhirnya membawa negosiasi ke ujungnya.
Telepon Terakhir
Pada Kamis malam waktu Barcelona, pagi hari di New York, petinggi Puig, Marc Puig, menelepon Chairman Estée Lauder, William Lauder, untuk menilai situasi yang kian memburuk, kata salah satu sumber.
Tak lama sesudahnya, para penasihat dari kedua pihak mulai saling bertukar pesan. Salah satunya menyertakan emoji tengkorak, pertanda bahwa kesepakatan telah mati.
Kebalikan dari Maret pun terjadi: saham Estée Lauder naik sekitar 10% pada Jumat. Saham Puig anjlok 13%. Juru Bicara Puig dan Estée Lauder menolak berkomentar.
Kegagalan ini sekaligus menegaskan jurang pemisah yang lebar antara dua raksasa kecantikan dengan DNA dan momentum pertumbuhan yang bertolak belakang.
Estée Lauder
Estée Lauder lahir dari semangat pascaperang. Didirikan pada 1946 di New York oleh pasangan Estée dan Joseph Lauder, perusahaan ini berdiri di tengah era keemasan Amerika, ketika ekonomi booming, kelas menengah tumbuh pesat, dan perempuan mulai menemukan identitas barunya di ruang publik.
Bermula dari empat produk perawatan kulit yang dijual door-to-door, Estée Lauder perlahan membangun sebuah imperium kecantikan prestige yang hari ini mencakup lebih dari 20 merek, antara lain Clinique, MAC, La Mer, Jo Malone, Tom Ford Beauty, Bobbi Brown, hingga The Ordinary, dan beroperasi di lebih dari 150 negara.
Namun di era Gen Z, tantangan tak terduga datang tak terduga. Pendapatan perusahaan yang sempat menyentuh puncak US$17,7 miliar pada 2022 terus menyusut, turun ke US$14,3 miliar pada 2025, tiga tahun berturut-turut merah.
CEO baru Stéphane de La Faverie kini memimpin restrukturisasi besar-besaran di bawah program "Beauty Reimagined", termasuk rencana pemangkasan hingga 7.000 karyawan.
Puig
Puig adalah warisan dari era yang lebih tua lagi. Didirikan di Barcelona pada 1914, lebih dari tiga dekade sebelum Estée Lauder lahir, Antonio Puig Castelló memulai usahanya sebagai distributor parfum asing.
Dari sana, keluarga Puig membangun identitasnya sendiri selama lebih dari satu abad: meluncurkan lipstik Milady pada 1922, merambah pasar internasional pada beberapa dekade berikutnya, hingga mengakuisisi merek demi merek yang kini membentuk portofolio 17 nama besar. Antara lain Rabanne, Carolina Herrera, Jean Paul Gaultier, Charlotte Tilbury, Byredo, hingga Dr. Barbara Sturm.
Pada Mei 2024, Puig melantai di Bursa Madrid dalam IPO terbesar Eropa tahun itu, meraup €2,6 miliar dengan valuasi €13,9 miliar, dengan keluarga Puig tetap menggenggam 92,5% hak suara.
Di era Gen Z dan kultur TikTok, Puig justru sedang dalam momentum yang tidak dinikmati banyak pesaingnya: pendapatan melampaui €5 miliar pada 2025, tumbuh di atas rata-rata pasar kecantikan prestige global, ditopang Charlotte Tilbury yang viral dan Rabanne yang kembali relevan di kalangan anak muda. (MT)