Trader prediksi Hyperliquid akan pimpin altcoin, mengapa?

Minggu, 24 Mei 2026

image

NEW YORK – Lonjakan aktivitas di platform Hyperliquid dan pulihnya minat terhadap proyek kripto berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai menjadi sinyal kembalinya selera risiko di pasar altcoin.

Seperti dikutip CoinDesk, Sabtu (23/05), analis dan trader kripto Michael van de Poppe menilai likuiditas pasar saat ini mulai terkonsentrasi pada sejumlah kecil protokol yang mampu mencatat pertumbuhan pengguna dan pendapatan secara konsisten.

Dalam acara CoinDesk’s Markets Outlook, Van de Poppe menyoroti token HYPE milik Hyperliquid yang baru mencetak rekor harga tertinggi setelah peluncuran dua ETF HYPE di Amerika Serikat.

Ia menyebut banyak trader Eropa mulai beralih ke Hyperliquid karena akses perdagangan perpetual futures masih terbatas di sejumlah yurisdiksi teregulasi di Eropa.

Ekspansi Hyperliquid ke sektor saham tokenisasi, komoditas, dan aset pra-IPO juga dinilai mempercepat tren tokenisasi di pasar kripto secara lebih luas.

Hyperliquid sendiri berbeda dari banyak proyek altcoin lain karena tidak hanya menawarkan token kripto, tetapi membangun infrastruktur perdagangan derivatif berbasis blockchain dengan sistem order book yang dirancang menyerupai bursa terpusat.

Platform ini banyak digunakan untuk perdagangan perpetual futures atau kontrak derivatif tanpa tanggal jatuh tempo yang populer di kalangan trader aktif kripto.

Berbeda dengan bitcoin yang lebih dipandang sebagai aset penyimpan nilai atau “emas digital”, Hyperliquid fokus pada penyediaan layanan perdagangan cepat dengan biaya rendah dan eksekusi transaksi yang mendekati pengalaman exchange besar seperti Binance, namun tetap berjalan secara on-chain dan terdesentralisasi.

Sejumlah analis menilai pertumbuhan Hyperliquid mencerminkan meningkatnya minat pasar terhadap proyek kripto yang memiliki penggunaan nyata, pendapatan transaksi, dan aktivitas pengguna yang tinggi, di tengah banyaknya altcoin yang masih bergantung pada narasi spekulatif semata.

Van de Poppe menilai token HYPE berpotensi menembus US$100 jika sentimen pasar terus menguat. Namun, ia mengingatkan dominasi Hyperliquid kemungkinan hanya bersifat sementara karena pesaing baru diperkirakan akan mulai masuk ke pasar.

Untuk prospek jangka panjang, ia justru lebih optimistis terhadap Solana karena dinilai berhasil bertransformasi dari ekosistem spekulatif menjadi infrastruktur blockchain yang lebih institusional.

Di sektor AI, Van de Poppe menilai proyek kripto berbasis kecerdasan buatan masih berada pada valuasi yang terlalu murah dibanding perusahaan AI tradisional.

Menurutnya, valuasi perusahaan AI publik dan swasta sudah terlalu tinggi, sementara token AI justru mengalami koreksi meski ekosistemnya terus berkembang.

Ia menunjuk NEAR Protocol dan Bittensor sebagai dua proyek infrastruktur AI terkuat saat ini.

Van de Poppe memperkirakan pendapatan NEAR dapat melonjak dari sekitar US$10 juta pada 2025 menjadi hingga US$100 juta tahun ini, sehingga membuka ruang valuasi yang lebih tinggi.

Sementara itu, ekspansi ekosistem dan model subnet milik Bittensor dinilai dapat mendorong harga tokennya menuju kisaran US$1.000 hingga US$2.000 apabila adopsi terus meningkat.

Di sisi lain, isu privasi disebut masih menjadi tema besar dalam industri kripto. Meski investor institusional dan ritel menginginkan privasi transaksi yang lebih tinggi, regulasi dinilai akan menjadi hambatan bagi koin anonim penuh.

Van de Poppe menilai regulator global tidak akan menerima sistem yang sepenuhnya tertutup karena pemerintah tetap membutuhkan transparansi terhadap transaksi keuangan.

Menurutnya, teknologi zero-knowledge proof dan model privasi berizin menjadi jalur paling realistis untuk mendukung adopsi institusional di masa depan.

Dari sisi makroekonomi, Van de Poppe menilai pergerakan imbal hasil obligasi dan kebijakan bank sentral masih menjadi penggerak utama pasar kripto dalam jangka pendek.

Ia secara khusus menyoroti imbal hasil obligasi Jepang sebagai indikator penting bagi selera risiko global. Penurunan yield dinilai dapat menopang pasar saham dan kripto, sementara inflasi yang tetap tinggi berpotensi menekan aset berisiko.

Van de Poppe juga mengatakan dirinya belum melihat peluang pemangkasan suku bunga agresif dari Federal Reserve dalam waktu dekat. Menurutnya, kenaikan suku bunga tambahan justru dapat menekan pasar kripto secara lebih luas. (SF)