Ukraina gelar kompetisi antar pilot drone militer
Minggu, 24 Mei 2026
TRUSKAVETS – Sebuah drone pencegat P1-SUN berbentuk peluru menukik tajam ke arah target di langit barat Ukraina, memicu sorak sorai puluhan tentara setelah berhasil memutus tali derek drone lawan yang terhubung ke balon udara.
Seperti dikutip Reuters, Sabtu (23/05), para pilot drone militer terbaik Ukraina pekan ini saling berhadapan bukan melawan Rusia, melainkan dalam kompetisi bertajuk “Wild Drones” untuk memperebutkan perangkat tempur canggih bagi unit mereka.
Teknologi drone telah mengubah wajah perang Ukraina. Operator muda yang mengendalikan drone serang berisi bahan peledak dari konsol mirip video game kini menjadi ancaman utama di garis depan.
Kompetisi yang digelar di dekat kota spa Truskavets itu mempertemukan pilot dari 19 unit drone terbaik Ukraina bersama sejumlah produsen drone yang memasok kebutuhan tempur di medan perang.
Sersan mayor batalion drone Black Raven dari Brigade Mekanik ke-93 dengan nama sandi “Grey” mengatakan ajang tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkenalkan teknologi baru di antara para operator drone.
“Ini kesempatan untuk saling belajar dan melihat produk baru dari produsen,” ujarnya.
Ukraina dalam beberapa tahun terakhir juga mulai menerapkan “gamifikasi” perang drone. Pemerintah memperkenalkan sistem poin untuk setiap serangan drone yang terverifikasi. [Gamifikasi: membuat suatu aktivitas memakai unsur seperti permainan/game untuk memotivasi perilaku tertentu.]
Poin tersebut dapat ditukar dengan peralatan militer melalui platform DOT-Chain dan Brave1 Market milik pemerintah Ukraina yang dijuluki sebagai “Amazon untuk perang”.
Seorang anggota Brigade Mekanik Terpisah ke-22 menyebut sistem itu membuat unit dapat memilih peralatan sesuai kebutuhan operasional mereka.
“Ini sedikit seperti memilih mobil. Semuanya melakukan hal yang berbeda,” ujarnya.
Pejabat Ukraina menyebut sistem poin tersebut dirancang untuk meningkatkan motivasi pasukan sekaligus memastikan sumber daya dialokasikan kepada unit paling efektif.
Menteri Pertahanan Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, sebelumnya menargetkan strategi drone untuk menguras kekuatan militer Rusia dengan menimbulkan hingga 50.000 korban per bulan.
Menurut data Ukraina, jumlah tentara Rusia yang tewas atau terluka parah saat ini mencapai sekitar 35.000 orang per bulan, meski angka tersebut dibantah Moskow.
Selain menjadi ajang kompetisi, acara tersebut juga menjadi momen jeda bagi sejumlah tentara yang telah bertugas sejak invasi Rusia pada 2022.
Suasana santai terlihat di area acara dengan kegiatan barbekyu dan pertemuan informal yang turut dihadiri anggota keluarga peserta.
Sejumlah perwira mengatakan pengembangan drone kini berlangsung sangat cepat karena produsen terus menerima masukan langsung dari medan perang.
Komandan unit Black Raven dengan nama sandi “Dym” mengatakan satu model drone dapat berubah drastis hanya dalam hitungan bulan.
“Jika kita punya satu versi drone hari ini, dalam tiga bulan bisa menjadi drone yang benar-benar berbeda,” ujarnya.
Peningkatan jangkauan drone juga memperluas “kill zone” di sepanjang garis depan hingga sekitar 15 kilometer di kedua sisi medan tempur.
Drone pembom berat Vampire buatan perusahaan teknologi pertahanan Ukraina Skyfall kini tidak hanya digunakan untuk serangan, tetapi juga mengirim makanan, air, dan perlengkapan medis ke area berbahaya.
Pemenang kompetisi di setiap kategori memperoleh tiga unit drone Vampire lengkap dengan baterai dan sistem pendukungnya.
Juru bicara Skyfall dengan nama sandi “Ares” mengatakan perusahaan saat ini mampu memproduksi lebih dari 10.000 drone per hari.
“Permintaan terbesar sekarang adalah otomatisasi agar lebih sedikit orang dapat mengoperasikan lebih banyak drone,” ujarnya. (SF)