Sundar Pichai bicara masa depan agentic AI Google

Minggu, 24 Mei 2026

image

SILICON VALLEY – Kepala Eksekutif Google, Sundar Pichai, memaparkan visi terbaru perusahaan mengenai masa depan kecerdasan buatan (AI) yang bersifat “agentic”, yakni sistem AI otonom yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri untuk pengguna.

Seperti dikutip news.com.au, Sabtu (23/05), visi tersebut disampaikan dalam konferensi tahunan Google I/O di California yang berlangsung pada Selasa dan Rabu.

Pichai menyebut era AI berikutnya akan ditentukan oleh agen digital yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu mengambil tindakan secara otomatis atas nama pengguna.

“Saya pikir Google I/O tahun ini meletakkan fondasi bagi transformasi agentic di seluruh produk kami,” ujarnya dalam sesi diskusi bersama Wakil Presiden Google, Liz Reid, dan Chief Technology Officer Google DeepMind, Koray Kavukcuoglu.

Menurut Pichai, interaksi AI akan berkembang dari sekadar pencarian informasi menjadi percakapan berkelanjutan yang mampu membantu pengguna menyelesaikan tugas secara langsung.

Konsep AI agentic mengacu pada sistem kecerdasan buatan yang dapat bekerja lintas aplikasi dan layanan dengan pengawasan manusia yang minim. Teknologi tersebut dirancang untuk merencanakan, menalar, dan mengeksekusi tugas kompleks secara mandiri.

Dalam konferensi tersebut, Google memperkenalkan sejumlah produk baru, termasuk Gemini Spark yang disebut sebagai agen AI “24/7”, fitur agen informasi untuk Search, serta pembaruan platform pengembangan AI Antigravity.

Namun, Pichai mengakui pengembangan AI agentic membutuhkan kapasitas komputasi dan infrastruktur pusat data yang sangat besar karena model tersebut sangat intensif terhadap penggunaan token dan daya pemrosesan.

Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Pichai juga menegaskan bahwa perkembangan AI saat ini merupakan bagian dari perjalanan menuju Artificial General Intelligence (AGI), yaitu sistem AI yang memiliki kemampuan setara atau melampaui manusia.

“Ada kemajuan yang tak terelakkan menuju AGI,” ujarnya.

Meski enggan memprediksi kapan AGI akan tercapai, Pichai mengatakan perkembangan satu hingga dua tahun terakhir membuat teknologi tersebut terasa semakin dekat.

Dorongan besar Google di sektor AI juga berlangsung di tengah persaingan ketat dengan OpenAI, Anthropic, dan perusahaan AI asal China.

Pichai mengakui Google masih tertinggal di sejumlah area, terutama dalam pengembangan AI untuk coding dan tugas agentic jangka panjang.

“Saya pikir kami sedikit tertinggal saat ini, tetapi kami bekerja sangat keras,” ujarnya kepada The New York Times.

Meski demikian, ia menilai Google memiliki keunggulan besar karena menguasai berbagai platform utama seperti Search, Android, Chrome, YouTube, dan Cloud.

Pichai mengatakan perubahan terbesar yang sedang terjadi adalah transformasi cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Google Search yang selama puluhan tahun berbasis daftar tautan kini mulai bergeser menjadi asisten percakapan yang lebih proaktif.

“Dalam mode AI dan mode agentic, sistem ini akan melakukan jauh lebih banyak hal untuk pengguna dibanding 10 tahun lalu,” katanya.

Di tengah optimisme tersebut, Pichai juga mengakui meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak AI, terutama terkait pekerjaan dan kecepatan perubahan teknologi.

“AI dipandang sebagai teknologi paling mendalam yang pernah dikerjakan umat manusia. Wajar jika orang merasa cemas terhadap masa depan yang dibawanya,” ujarnya. (SF)