China tekan Jepang dengan hentikan ekspor tanah jarang
Senin, 25 Mei 2026
SINGAPURA – China menghentikan pasokan sejumlah logam tanah jarang berat (heavy rare earths) dan mineral penting lainnya ke Jepang selama sedikitnya empat bulan di tengah meningkatnya ketegangan terkait Taiwan.
Seperti dikutip Reuters, Jumat (22/05), penghentian ekspor tersebut dinilai menunjukkan penggunaan dominasi China atas mineral kritis sebagai alat tekanan diplomatik.
Jepang merupakan produsen magnet tanah jarang terbesar di luar China, namun masih sangat bergantung pada impor logam tanah jarang berat dari Beijing untuk kebutuhan industri magnet, kedirgantaraan, pertahanan, dan semikonduktor.
Berdasarkan data bea cukai China, ekspor disprosium, terbium, itrium oksida, serta galium ke Jepang berhenti sejak Desember 2025, kecuali beberapa pengiriman kecil itrium.
Dampaknya mulai terasa di sektor industri. Produsen magnet Jepang Shin-Etsu Chemical disebut telah menghentikan penerimaan pesanan baru untuk magnet yang mengandung disprosium, menurut seorang pelanggan Barat yang tidak disebutkan identitasnya.
Penghentian ekspor terjadi tidak lama setelah sengketa diplomatik terkait Taiwan memanas pada November tahun lalu.
China kemudian memperketat kontrol ekspor ke Jepang pada Januari dan kembali memperluas pembatasan pada bulan berikutnya dengan menargetkan sejumlah konglomerat besar, termasuk divisi perkapalan dan mesin aero milik Mitsubishi Heavy Industries.
Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa yang sedang berada di China dijadwalkan menghadiri sejumlah pertemuan pada Sabtu. Ia menjadi pejabat Jepang paling senior yang berkunjung ke China sejak sengketa tersebut pecah.
Di dalam negeri, pemerintah Jepang mulai menyiapkan langkah mitigasi, termasuk kemungkinan melepas cadangan strategis mineral jika diperlukan.
Seorang pejabat kementerian industri Jepang mengatakan pemerintah menyadari meningkatnya kekhawatiran atas kenaikan harga dan pengetatan pasokan.
Direktur Riset Project Blue, David Merriman, menilai perusahaan Jepang kini lebih siap dibanding krisis serupa pada 2010 karena telah membangun cadangan dan mengurangi ketergantungan terhadap logam tanah jarang berat China.
Selain itu, sejumlah perusahaan juga mulai mencari alternatif pasokan dan mengurangi penggunaan logam tanah jarang berat dalam produksi magnet.
Produsen komponen elektronik TDK mengatakan belum melihat dampak besar terhadap operasional dan terus mendiversifikasi sumber pasokan.
Sementara Mitsubishi Motors menyatakan telah mengamankan pasokan tanah jarang hingga pertengahan tahun.
Sebagai solusi jangka panjang, Jepang mendukung pengembangan produsen alternatif seperti Lynas Rare Earths di Australia.
Lynas tahun lalu menjadi produsen komersial pertama di luar China yang berhasil memisahkan terbium dan disprosium.
Namun, analis menilai penggantian pasokan China masih akan membutuhkan waktu bertahun-tahun karena skala produksi alternatif masih jauh lebih kecil dibanding kapasitas ekspor China saat ini. (SF)