Yield naik, bank sentral dunia jual obligasi Amerika

Minggu, 24 Mei 2026

image

NEW YORK – Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat terus mengalami tekanan seiring lonjakan imbal hasil Treasury dan meningkatnya aksi jual dari bank sentral dunia di tengah perang Iran dan kekhawatiran terhadap utang AS yang membengkak.

Seperti dikutip FXStreet, Kamis (21/05), imbal hasil Treasury 10-tahun naik di atas 4,6%, sementara tenor 30-tahun menembus level 5%. Imbal hasil obligasi 2-tahun juga bergerak di atas 4%.

Pada lelang pekan lalu, obligasi Treasury 30-tahun terjual dengan imbal hasil 5,046%, menjadi level tertinggi sejak 2007 untuk penjualan lelang tenor tersebut.

Tekanan di pasar obligasi disebut dipicu kombinasi peningkatan pasokan utang pemerintah AS dan menurunnya minat investor asing terhadap aset dolar.

Data menunjukkan kepemilikan Treasury asing turun dari US$9,49 triliun pada Februari menjadi US$9,25 triliun pada Maret.

China memangkas kepemilikan Treasury sebesar 6% menjadi US$652,3 miliar, sementara Jepang sebagai kreditur asing terbesar AS melepas sekitar US$47 miliar sehingga total kepemilikannya turun menjadi US$1,191 triliun.

Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann, mengatakan tekanan tersebut tidak mengejutkan mengingat volatilitas pasar sejak perang di Teluk dimulai.

“Mengingat peningkatan volatilitas keuangan sejak perang di Teluk dimulai dan tekanan terhadap nilai tukar, tidak mengherankan jika kepemilikan Treasury oleh bank sentral menurun,” ujarnya kepada CNBC.

Menurut FXStreet, tekanan terhadap Treasury sebenarnya telah terjadi sebelum konflik akibat meningkatnya kekhawatiran global terhadap kondisi fiskal AS.

Utang nasional AS kini telah melampaui US$39 triliun, sementara pemerintah federal disebut terus meningkatkan pengeluaran, termasuk tambahan sekitar US$1 miliar per hari untuk membiayai perang.

Analisis tersebut menggambarkan kondisi fiskal AS seperti “paman mabuk yang seluruh kartu kreditnya sudah penuh”, merujuk pada kekhawatiran investor global terhadap keberlanjutan utang pemerintah AS.

Kekhawatiran itu juga tercermin dalam tren dedolarisasi dan meningkatnya minat bank sentral terhadap emas sebagai aset cadangan.

Tekanan pasar obligasi memperbesar beban bunga pemerintah AS. Pembayaran bunga selama tujuh bulan pertama tahun fiskal 2026 mencapai US$734,2 miliar, naik 7,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, total biaya bunga utang nasional pada tahun fiskal 2025 tercatat mencapai US$1,2 triliun.

Media keuangan WolfStreet menyebut pasar mulai mempertanyakan kemampuan AS membiayai defisit fiskal yang terus membesar tanpa kenaikan imbal hasil lebih lanjut.

Analis Artis Shepherd sebelumnya menyebut pasar obligasi telah memberi “lampu merah berkedip” terhadap arah fiskal AS dan penyalahgunaan status dolar sebagai mata uang cadangan global selama puluhan tahun.

Analis pasar Brien Lundin menilai Federal Reserve kini berada dalam “perangkap utang” karena harus memilih antara menekan inflasi atau menopang pasar obligasi.

Menurut Lundin, kenaikan harga minyak akibat perang mendorong risiko inflasi lebih tinggi, sementara pasar mulai menuntut imbal hasil Treasury yang lebih besar untuk mengompensasi risiko fiskal AS.

“The Fed perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, tetapi mereka tidak bisa karena perangkap utang,” ujarnya.

Ia menilai bank sentral kemungkinan akan kembali menopang pasar obligasi melalui kebijakan pelonggaran likuiditas yang pada akhirnya berisiko memperburuk inflasi.

“Sejarah menunjukkan The Fed kemungkinan akan memilih inflasi,” kata Lundin. (SF)