Mega IPO SpaceX dinilai bukan sinyal pemulihan pasar IPO
Senin, 25 Mei 2026
NEW YORK – Penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang memecahkan rekor dinilai menjadi tontonan terbesar Wall Street sejak ledakan pencatatan saham era pandemi.
Seperti dikutip Reuters, Kamis (21/05), IPO tersebut diperkirakan menarik minat investor ritel melalui kombinasi ambisi eksplorasi Mars, infrastruktur kecerdasan buatan (AI), dan proyek pusat data berbasis luar angkasa.
Meski demikian, sejumlah analis menilai IPO SpaceX tidak dapat dijadikan indikator pemulihan pasar IPO secara luas karena karakter bisnis perusahaan tersebut sangat berbeda dibanding kandidat IPO pada umumnya.
“SpaceX terlalu besar dan memiliki valuasi yang sangat luar biasa sehingga tidak cocok dijadikan tolok ukur normal pasar IPO,” ujar analis IPOX, Lukas Muehlbauer.
Menurut Reuters berdasarkan data Dealogic, IPO SpaceX diperkirakan menghimpun dana lebih dari US$75 miliar dengan valuasi sekitar US$1,75 triliun, menjadikannya salah satu pencatatan saham terbesar dalam sejarah pasar modal AS.
Analis menilai skala transaksi tersebut berpotensi menyedot likuiditas dan perhatian investor dari perusahaan lain yang juga berencana melantai di bursa.
Seorang bankir pasar modal Eropa mengatakan banyak investor institusi diperkirakan akan memprioritaskan SpaceX karena besarnya ukuran transaksi dan tekanan bagi manajer investasi untuk ikut berpartisipasi.
Menurut Muehlbauer, beberapa perusahaan bahkan mempercepat rencana IPO mereka agar dapat masuk pasar sebelum SpaceX menyerap fokus investor bulan depan.
Fenomena itu terlihat dari sejumlah IPO yang sudah masuk pasar dalam beberapa pekan terakhir, termasuk perusahaan cip AI Cerebras dan bank investasi Lincoln International.
Di kalangan investor ritel, IPO SpaceX dinilai berkembang menjadi perdagangan berbasis FOMO (fear of missing out) yang ditopang popularitas Elon Musk dan persepsi kelangkaan saham perusahaan tersebut.
Berbeda dengan IPO tradisional yang biasanya mengandalkan fundamental arus kas dan proyeksi pertumbuhan yang stabil, SpaceX lebih banyak dipasarkan melalui narasi visi futuristik dan dominasi industrinya.
Dokumen IPO perusahaan menunjukkan sebagian besar pendapatan SpaceX tahun lalu berasal dari bisnis internet satelit Starlink dengan total pendapatan mencapai US$18,67 miliar, sementara unit AI perusahaan masih mencatat kerugian.
Reuters sebelumnya melaporkan Elon Musk juga mempertimbangkan mengalokasikan hingga 30% saham IPO kepada investor ritel, jauh di atas rata-rata alokasi IPO tradisional.
Mitra Cerity Partners, Michael Ashley Schulman, menilai antusiasme investor ritel terhadap SpaceX didorong oleh kekuatan narasi pasar.
“SpaceX bisa menjadi peristiwa naratif terbesar dalam satu generasi,” ujarnya.
Meski IPO SpaceX diperkirakan sukses besar, analis menilai hal itu belum cukup untuk memulihkan pasar IPO AS yang lesu sejak boom pencatatan saham tahun 2021.
Mereka menilai pemulihan pasar IPO secara lebih luas tetap bergantung pada stabilitas geopolitik, kondisi pasar saham, dan meredanya kekhawatiran investor terhadap disrupsi AI pada sektor teknologi lama.
Kepala Strategi Ekonomi Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menegaskan IPO SpaceX bukan representasi kondisi pasar secara keseluruhan.
“Ini bukan sinyal pasar IPO secara umum,” katanya.
Profesor keuangan Universitas Georgetown, Reena Aggarwal, menambahkan model bisnis unik SpaceX tidak menjamin IPO perusahaan lain akan memperoleh hasil serupa.
“Namun jika IPO ini gagal karena alasan apa pun, dampaknya bisa menekan pasar IPO secara keseluruhan,” ujarnya. (SF)