Hasil kunjungan Rubio, India impor LNG besar
Senin, 25 Mei 2026
NEW DELHI - India memandang Amerika Serikat sebagai mitra energi yang “signifikan dan dapat diandalkan”, kata Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyebut hubungan kedua negara sebagai salah satu yang paling penting di dunia.
Dalam konferensi pers bersama di New Delhi, Rubio mengatakan bahwa India dan AS memiliki keselarasan strategis dalam sektor energi.
Seperti dikutip Bloomberg, Ia menegaskan bahwa kedua negara ingin memastikan dunia tidak hanya mampu memproduksi energi, tetapi juga menyalurkannya untuk mendukung ekonomi modern.
Rubio sedang melakukan kunjungan empat hari ke India, dengan agenda pembahasan mulai dari energi hingga keamanan regional.
Pejabat AS sebelumnya menyatakan Washington siap memasok energi sebanyak yang dibutuhkan India, dan menawarkan bantuan untuk mendiversifikasi sumber energi negara tersebut.
India, sebagai salah satu importir energi terbesar dunia, terdampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.
Gangguan di Selat Hormuz sempat memengaruhi jalur penting impor energi, termasuk LPG yang banyak digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga.
Jaishankar menyebut terjadi peningkatan signifikan dalam pasokan energi dari AS ke India, serta menekankan bahwa India kini memasuki era pengurangan risiko (de-risking) dengan fokus pada keamanan dan keterjangkauan energi.
India diperkirakan akan mencatat impor LPG dan gas alam cair (LNG) dari AS dalam jumlah rekor pada bulan Mei, menunjukkan meningkatnya ketergantungan energi India terhadap Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, isu sanksi AS terhadap minyak Rusia juga dibahas. India menegaskan bahwa pasar energi global tidak boleh terganggu atau dibatasi karena hal tersebut dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Selain isu energi, kedua negara juga menegaskan kembali hubungan strategis mereka.
Rubio menyebut kemitraan AS–India tetap kuat dan terus berkembang, serta tidak sedang mengalami kemunduran.
Hubungan bilateral sempat mengalami ketegangan sebelumnya terkait perbedaan pandangan atas sejumlah isu regional, namun kini kedua pihak berupaya memperkuat kerja sama, termasuk dalam penyelesaian kesepakatan perdagangan dan penurunan tarif. (DK)