Pasokan energi berkurang, negara Eropa beralih ke Norwegia
Senin, 25 Mei 2026
OSLO - Norwegia, yang dikenal sebagai salah satu produsen utama minyak dan gas dunia, meningkatkan produksi bahan bakar fosil dalam beberapa minggu terakhir.
Seperti dikutip OILPRICE, hal itu dilakukan untuk menutupi kekurangan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz serta gangguan perdagangan energi yang masih berlangsung.
Sejumlah negara menyambut langkah ini karena membantu meredakan kelangkaan minyak dan gas, namun kelompok lingkungan mengkritiknya dan menilai bahwa fokus seharusnya lebih diarahkan pada peningkatan energi terbarukan di kawasan tersebut.
Norwegia kini dianggap mengambil peran sebagai “penyelamat Eropa” setelah menggantikan sebagian pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah yang terganggu akibat penutupan jalur perdagangan penting antara Asia dan Eropa.
Perdana Menteri Norwegia dari pemerintahan Partai Buruh, Jonas Gahr Støre, mengatakan bahwa situasi perang yang tidak menentu membuat Norwegia harus menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan.
Sebelumnya, Norwegia juga meningkatkan produksi minyak dan gas setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, ketika banyak negara Eropa menghentikan pembelian energi dari Rusia dan beralih ke Norwegia.
Saat ini, Norwegia menjadi pemasok gas pipa terbesar di Eropa, dengan sekitar 90–95 persen ekspor minyaknya menuju Eropa.
Namun, kapasitas produksi Norwegia hampir mencapai batas maksimal sehingga sulit untuk terus meningkatkan output dari proyek yang ada.
Produksi minyak diperkirakan akan menurun setelah 2030 jika tidak ada proyek baru yang dikembangkan, sehingga eksplorasi baru menjadi opsi yang didorong pemerintah tetapi ditentang kelompok lingkungan.
Menteri Energi Norwegia Terje Aasland menegaskan bahwa pemerintah berfokus pada peran Norwegia sebagai pemasok energi yang stabil dan dapat diprediksi bagi Eropa.
Ia juga menyatakan bahwa Norwegia akan terus mengembangkan aktivitas di landas kontinennya, termasuk rencana pembukaan kembali tiga ladang gas di Laut Utara, Albuskjell, Vest Ekofisk, dan Tommeliten Gamma, yang ditutup hampir 30 tahun lalu dan ditargetkan kembali beroperasi pada 2028.
Pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi Eropa di tengah sanksi terhadap Rusia dan gangguan perdagangan dari Timur Tengah.
Produksi diharapkan tetap sejalan dengan tingkat output tahun 2025.
Sementara itu, perusahaan energi negara Equinor berencana menginvestasikan sekitar US$6 miliar per tahun hingga 2035 untuk menjaga agar produksi tidak menurun, termasuk melalui pengeboran baru, pengembangan lapangan kecil, dan pembangunan infrastruktur pipa.
Pada awal tahun ini, Norwegia memproduksi sekitar 2,31 juta barel setara minyak per hari, naik hampir 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah juga menaikkan proyeksi pendapatan minyak dan gas tahun ini menjadi US$79 miliar karena harga energi global yang lebih tinggi.
Namun, Partai Sosialis Kiri Norwegia menilai kebijakan ini mengabaikan masukan lingkungan dan menyebut ekspansi minyak dan gas sebagai bentuk “greenwashing” yang berisiko terhadap kawasan alam penting.
Di tengah perdebatan tersebut, Norwegia tetap dipandang sebagai pemasok energi utama yang membantu stabilitas Eropa, meskipun kekhawatiran meningkat bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat memperlambat transisi menuju energi bersih. (DK)