CEO Danantara Rosan Roeslan beberkan strategi 2026
Selasa, 02 Desember 2025

JAKARTA - Danantara Indonesia menyiapkan manuver besar pada 2026, mulai dari pembangunan proyek pembangkit energi sampah menjadi listrik (PSEL) hingga pendalaman pasar modal.
Arah strategis ini dipaparkan dalam rapat tertutup penyampaian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 pada Senin (1/12), sesuai mandat UU No. 16/2025 tentang Holding Investasi.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa roadmap investasi 2026 dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mendorong transformasi nasional.
“Roadmap investasi kami disusun secara terukur dan berorientasi pada penciptaan nilai lintas generasi. Mandat kami jelas: memberikan imbal hasil yang sehat bagi negara sambil memastikan setiap investasi mendukung ketahanan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Rosan menjelaskan, strategi Danantara tahun depan mencakup pengembangan proyek strategis, penguatan sektor prioritas, serta diversifikasi portofolio lintas aset dan geografi. Kombinasi investasi jangka panjang dengan instrumen publik maupun privat diharapkan menghasilkan arus kas stabil.
“Kami membangun portofolio dengan kehati-hatian serta diversifikasi yang kuat,” tegasnya.
Sesuai kerangka klasifikasi internal, proyek strategis harus memenuhi kriteria dampak nasional, keberlanjutan sosial-lingkungan, dan kelayakan komersial. Salah satu proyek unggulan ialah Kampung Haji di Makkah yang diatur melalui Inpres No. 15/2025.
Proyek ini diproyeksikan menciptakan 7.500 lapangan kerja dengan nilai ekonomi lebih dari Rp2,5 triliun per tahun.
Di dalam negeri, Danantara juga menggarap proyek waste-to-energy (WtE) guna memperkuat ketahanan energi sekaligus memperbaiki pengelolaan sampah.
Proyek ini diperkirakan membuka 3.500–4.500 lapangan kerja selama masa konstruksi serta berkontribusi hingga Rp1,6 triliun per tahun kepada PDB.
Danantara juga menegaskan komitmennya mendukung pendalaman pasar modal nasional. Managing Director Treasury Danantara, Ali Setiawan, mengatakan perusahaan akan selektif dalam memilih saham.
“Kami tidak akan masuk ke saham-saham gorengan atau saham dengan price improvement terlalu agresif. Kami melakukan penilaian berbasis ROE, PI, dividend yield, market cap, profitabilitas, dan likuiditas harian,” jelasnya.
Untuk obligasi, Danantara akan mengutamakan Surat Berharga Negara (SBN) dan mayoritas akan dipegang hingga jatuh tempo. Seri yang dipilih adalah SBN likuid atau seri baru, sementara seri off the run hanya akan dibeli jika menawarkan yield kompensatif.
Ali juga menegaskan bahwa diversifikasi portofolio akan mencakup pasar global, selaras dengan praktik umum sovereign wealth fund internasional.
“Kalau aset investasi hanya di Indonesia, opsinya sangat terbatas. Likuiditas harian di pasar saham juga kecil sehingga ruang gerak kami terbatas,” katanya.
Terkait rencana indeks saham baru bersama BEI, Ali menilai isu yang lebih penting adalah pendalaman pasar secara menyeluruh. Ia mencontohkan porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI yang bahkan setelah penyesuaian free float berpotensi berada di bawah 1%, jauh di bawah India (18–20%) dan China (30%).
Saat ditanya mengenai besaran dana Danantara di pasar modal, Ali belum dapat membeberkan angka pasti dan membantah kabar mengenai alokasi Rp16 triliun yang disebut akan masuk ke pasar saham akhir tahun ini.
“Itu tidak benar. Kami pasti berkontribusi, tetapi saya tidak dapat menyebutkan berapa jumlahnya atau saham apa yang akan dibeli,” tegasnya. (DK)