Amazon gelontorkan US$200 miliar untuk Infrastruktur AI pada 2026

Senin, 25 Mei 2026

image

NEW YORK - Amazon menjadi salah satu perusahaan dengan belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. 

Pada 2026 saja, perusahaan diperkirakan mengalokasikan sekitar US$200 miliar untuk belanja modal atau capital expenditure (capex), angka yang bahkan melampaui total pendapatan banyak perusahaan selama puluhan tahun.

Investasi jumbo tersebut mencerminkan tingginya permintaan terhadap daya komputasi AI. 

Seperti dikutip The Motley Fool, Amazon ingin menjadikan platformnya sebagai salah satu pusat utama pengembangan dan operasional model AI global. 

Meski membutuhkan dana sangat besar, perusahaan menilai langkah ini sebagai strategi jangka panjang yang penting.

Melalui Amazon Web Services (AWS), Amazon menjalankan bisnis penyewaan kapasitas komputasi kepada pelanggan. 

Model bisnis ini telah sukses selama dua dekade, namun kini memasuki fase baru seiring pesatnya perkembangan AI generatif.

AI membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar dibanding beban kerja digital lainnya. Karena itu, Amazon agresif membangun infrastruktur baru. 

Perusahaan menegaskan investasi tersebut bukan keputusan spekulatif, sebab sebagian kapasitas tambahan yang sedang dibangun sudah memiliki kontrak penggunaan dari pelanggan untuk beberapa tahun ke depan.

Manajemen Amazon menyebut pembangunan ekosistem AI sebagai peluang “sekali seumur hidup” yang diyakini dapat mendongkrak arus kas perusahaan dalam jangka panjang. 

Amazon juga menilai semakin cepat pertumbuhan AWS, semakin besar pula kebutuhan investasinya.

Pada kuartal I 2026, pendapatan AWS tumbuh 28% secara tahunan, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir empat tahun terakhir. Pertumbuhan kuat datang dari layanan cloud tradisional maupun bisnis AI, terutama chip khusus buatan AWS yang mencatat pertumbuhan hingga tiga digit.

AWS kini menyumbang sekitar 59% laba operasional Amazon pada kuartal pertama tahun ini. 

Dengan ekspansi AI yang terus meningkat, Amazon diyakini berpotensi mencatat pertumbuhan laba lebih besar dalam beberapa tahun mendatang. (DK)