MBAP keruk habis Malinau per 2028, siap pivot ke bisnis wood pellet?
Senin, 25 Mei 2026
JAKARTA – PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), emiten industri tambang batu bara, menyatakan bahwa cadangan batu bara di area operasi Malinau, Kalimantan Utara, per Mei 2026 tersisa sekitar 3 juta ton, yang akan ditambang hingga 2028 mendatang.
Pihak Perseroan, dalam sesi Paparan Publik Rabu (20/5) pekan lalu, menyebutkan bahwa target produksi MBAP untuk tahun 2026, yang telah disetujui pemerintah, adalah 1,05 juta ton.
“Kita sudah berproduksi dari Januari sampai Mei Itu 600 ribu ton. Sisa produksi kita 400 ribu ton lagi untuk sampai Desember 2026,” jelas Dani Prastiadi, Direktur Utama MBAP.
Ia juga menyebutkan bahwa ke depannya, Perseroan merencanakan total produksi 1,3 juta ton batu bara per tahun di 2027 dan 2028 untuk menghabiskan sisa cadangan batu bara di Malinau.
Perseroan diketahui telah memulai aktivitas pertambangan batu bara di area tersebut sejak tahun 2008, dan kini telah memasuki masa pascatambang serta mempersiapkan proses reklamasi.
“Kami terus berusaha mengejar evaluator untuk diterima kegiatan reklamasi kami, karena ini berkaitan dengan kelanjutan bisnis kami ke depan di area tersebut. Karena area yang kami pakai itu ada di area bekas tambang juga,” jelas Helmy Paramaditya, Direktur MBAP.
Seperti yang pernah diberitakan IDNFinancials sebelumnya, MBAP tengah mempersiapkan diversifikasi bisnis ke energi baru terbarukan (EBT) melalui produksi wood pellet dan operasi panel surya.
Pada tahun 2025, MBAP mengalokasikan 67% belanja modal (capex) untuk pengembangan EBT tersebut.
Untuk tahun 2026, Perseroan juga menyiapkan capex US$105 juta. “Akan digunakan 97% untuk pengembangan dan investasi anak usaha Perseroan,” jelas Yulius Leonardo, Direktur Keuangan MBAP.
Khoirudin, Direktur Utama MBAP, menambahkan bahwa alokasi ini sejalan dengan rencana Perseroan untuk mengembangkan anak usaha eksisting, serta mencari peluang usaha baru di masa depan.
Menurut Khoirudin, anak usaha eksisting kini telah berkontribusi 17,6% dari total pendapatan MBAP per Desember 2025.
“Tentu target tahun depan akan terus bertambah. Di tahun 2026, anak usaha akan kita targetkan untuk memberikan revenue stream baru,” jelasnya.
Perseroan diketahui telah menetapkan target awal aktivitas produksi wood pellet oleh PT Malinau Hijau Lestari (MHL) pada akhir kuartal kedua 2026. MBAP sempat memproyeksikan kapasitas produksi MHL hingga 150 ribu ton wood pellet per tahun.
Di sisi lain, Perseroan juga masih mengakui terdapat potensi pengembangan usaha di sektor utama bisnisnya, yaitu pertambangan. Namun, Perseroan masih enggan mengumumkan rencana lebih lanjut.
“Ketika nanti sudah bisa kami publikasikan, akan kami sampaikan ... Jadi, nanti selanjutnya ini akan jadi portofolio pengembangan usaha Mitrabara selain pilar-pilar lainnya yang sudah mulai terbentuk,” jelas Helmy.
Untuk tahun 2026, MBAP menargetkan penjualan batu bara mencapai 1,45 juta ton, melebihi target produksi tahun 2026.
“Pada akhir tahun 2025 kita mempunyai cukup stok untuk kita bisa melakukan penjualan,” jelas Khoirudin. Dengan harga batu bara yang lebih tinggi di tahun 2026, ia berharap bahwa strategi ini membawa efek positif bagi kinerja keuangan Perseroan.
Hal ini sudah tampak pada kinerja per kuartal I 2026 lalu. MBAP membukukan laba bersih tumbuh 8,72% secara tahunan menjadi US$1,75 juta meski pendapatan ambles 7,73%, berkat efisiensi pada beban pokok pendapatan. (ZH)