Harga minyak stabil di tengah risiko geopolitik global
Selasa, 02 Desember 2025

JAKARTA - Harga minyak bergerak stabil pada Selasa (2/12), di tengah kecemasan pasar terkait risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan.
Investor mencermati serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia, meningkatnya ketegangan AS–Venezuela, serta proyeksi beragam mengenai stok bahan bakar AS.Dilansir dari reuters.com, kontrak berjangka Brent LCOc1 naik tipis 7 sen atau 0,1% menjadi US$63,24 per barel pada pukul 06.57 GMT.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 menguat 13 sen atau 0,2% ke level US$59,45 per barel. Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 1% pada Senin, dengan WTI mendekati level tertinggi dua minggu.“Minyak mempertahankan penguatan seiring pelaku pasar menunggu langkah Presiden Trump terkait Venezuela dan menilai kerusakan di terminal Laut Hitam,” tulis analis Saxo dalam catatan kepada klien.Pada hari Senin (1/12) lalu, konsorsium Pipa Kaspia mengumumkan telah melanjutkan pengiriman minyak dari satu titik tambat di terminal Laut Hitam, setelah serangan drone besar-besaran Ukraina pada 29 November.
Media Rusia Kommersant melaporkan, berdasarkan sumber anonim, bahwa pengiriman minyak via Single Point Mooring 1 (SPM 1) telah kembali berjalan, sementara SPM 2 mengalami kerusakan.“Konflik militer ini menguatkan pandangan kami bahwa kesepakatan damai belum mungkin terjadi dalam waktu dekat, dan pasar diesel/gasoil berpotensi mendorong harga minyak kembali naik,” ujar analis Ritterbusch and Associates.Dari sisi diplomasi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menegaskan prioritas Kyiv adalah menjaga kedaulatan dan memperoleh jaminan keamanan yang kuat.
Ia menambahkan bahwa persoalan teritorial masih menjadi titik negosiasi paling sulit. Utusan AS Steve Witkoff dijadwalkan memberi penjelasan kepada Kremlin pada Selasa.Suvro Sarkar, pemimpin tim energi DBS, menambahkan bahwa “faktor lain yang mulai mencuat” adalah dinamika di Venezuela.
Menurutnya, meskipun konflik besar kecil kemungkinannya terjadi, situasi yang berkembang dapat mengganggu stabilitas internal dan mengancam produksi serta ekspor minyak negara tersebut.Presiden AS Donald Trump juga berdiskusi dengan para penasihat senior mengenai kampanye tekanan terhadap Venezuela. Pada Sabtu, Trump menyatakan wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela harus dianggap “sepenuhnya ditutup,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.Sementara itu, OPEC+ pada Minggu menegaskan kembali rencana kenaikan kecil output minyak untuk Desember dan jeda peningkatan pada kuartal pertama tahun depan, seiring meningkatnya kekhawatiran kelebihan pasokan global.
“Bahasa kebijakan OPEC+ mengenai pengelolaan pasokan dalam jangka pendek masih mendukung harga minyak,” ujar Sarkar.Ekspektasi yang beragam terhadap data persediaan minyak AS turut menahan pergerakan harga.
Jajak awal Reuters terhadap empat analis memproyeksikan penurunan stok minyak mentah, namun kenaikan pada persediaan produk olahan untuk pekan yang berakhir 28 November. (DK)