NCKL berencana buyback saham hingga Rp1 triliun

Senin, 25 Mei 2026

image

JAKARTA - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), emiten nikel terintegrasi Harita Nickel, berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah penilaian manajemen bahwa harga saham perseroan belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Manajemen NCKL menyampaikan bahwa rencana buyback akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 30 Juni 2026. Setelah disetujui, program buyback akan berlangsung paling lama 12 bulan. “Perusahaan menilai bahwa harga saham perseroan saat ini belum mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya, meski perusahaan telah menunjukkan kinerja yang cukup baik,” tulis manajemen NCKL dalam keterbukaan informasi, Jumat (22/5). NCKL juga menegaskan bahwa program buyback ini tidak akan beririsan dengan pelaksanaan buyback sebelumnya yang telah disetujui dalam RUPST 2025 dengan nilai yang sama, yakni Rp1 triliun. Periode buyback 2025 akan berakhir pada 18 Juni 2026. “Periode buyback saham yang akan dilaksanakan terhitung sejak tanggal persetujuan RUPST pada 30 Juni 2026 tidak akan beririsan dengan periode buyback saham 2025,” jelas manajemen. Manajemen Perseroan menjelaskan buyback akan dilakukan melalui mekanisme di bursa maupun di luar bursa. Untuk transaksi di pasar reguler, NCKL menunjuk PT Harita Kencana Sekuritas sebagai anggota Bursa Efek Indonesia (BEI). Seluruh dana buyback akan bersumber dari kas internal perusahaan dan tidak berasal dari hasil penawaran umum maupun pinjaman. Manajemen menilai aksi tersebut tidak akan mengganggu operasional maupun kegiatan usaha perseroan karena posisi modal kerja masih memadai. “Perusahaan menilai bahwa tidak akan ada perubahan signifikan atas laba bersih dan laba per saham perusahaan atas pelaksanaan buyback saham tersebut,” tulis manajemen.

Dari segi kinerja keuangan, NCKL mencatatkan pertumbuhan laba bersih 65,47% menjadi sebesar Rp1,65 triliun pada kuartal pertama (Q1) 2025.

Kinerja pendapatan NCKL juga menunjukkan kenaikan 18,12% menjadi Rp7,12 triliun pada Q1 2025. 

Bisnis pengolahan nikel jadi kontributor utama pendapatan NCKL, dengan perolehan Rp5,96 triliun atau setara 83,71% dari total pendapatan. Sementara kontribusi dari penambangan nikel hanya Rp1,15 triliun.

Pada perdagangan hari ini, Senin (25/5), hingga pukul 09.05 WIB, harga saham NCKL naik 1,75% ke level Rp870 per saham. Namun, dalam sebulan saham NCKL merosot hingga 23,35% dan sejak awal 2026 anjlok 25,32%. (DK)