Produksi aluminium Teluk anjlok 35% akibat konflik Iran

Selasa, 26 Mei 2026

image

JAKARTA - Produksi aluminium primer di kawasan Teluk anjlok 35% secara tahunan pada April 2026 ke level terendah dalam lebih dari satu dekade akibat perang Iran yang terus mengganggu operasi smelter dan pasokan bahan baku, menurut data awal International Aluminium Institute (IAI) yang dirilis Rabu.

Seperti dikutip Al Circle, produksi aluminium primer kawasan Teluk tercatat sebesar 330.000 ton pada April, turun 35% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan tajam ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap produsen aluminium di kawasan seiring konflik yang menghambat logistik dan rantai pasok.

Kawasan Teluk menyumbang sekitar 8% produksi aluminium primer global dan menjadi pemasok utama bagi pasar internasional seperti Jepang dan Amerika Serikat. 

Sekitar 28% impor aluminium Jepang dan 21% impor AS berasal dari kawasan tersebut.

Analis Jonathan Grant mengatakan penurunan produksi April kemungkinan belum mencapai titik terendah dan menunjukkan kondisi yang makin memburuk hingga membawa output aluminium Teluk ke level terendah dalam lebih dari 10 tahun.

Menurutnya, smelter di kawasan Teluk kesulitan mengisi kembali persediaan bahan baku karena pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat konflik. 

Produsen kini berupaya mencari jalur transportasi darat alternatif demi mempertahankan operasi.

Gangguan produksi di kawasan Teluk juga menekan output aluminium global. Produksi aluminium primer dunia turun 2,1% secara tahunan menjadi 5,92 juta ton pada April, berdasarkan data IAI.

Di sisi lain, China masih meningkatkan produksinya. 

Output aluminium primer China diperkirakan naik 1,5% menjadi 3,68 juta ton pada April, sehingga membantu menahan penurunan produksi di wilayah lain. (DK)