Singapura amankan pasokan LNG hingga akhir 2026
Selasa, 26 Mei 2026
SINGAPURA - Singapura memastikan pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) mencukupi hingga akhir tahun setelah mengamankan tambahan kargo di tengah terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz akibat perang Iran.
Perusahaan milik negara Singapore GasCo, yang baru dibentuk tahun lalu, membeli LNG dari kawasan di luar Timur Tengah melalui pasar spot. CEO Singapore GasCo, Alan Heng, mengatakan langkah itu dilakukan untuk menggantikan pasokan yang tertahan akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Seperti dikutip THE BUSINESS TIMES, selain membeli kargo spot, Singapore GasCo juga tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan sejumlah pemasok, termasuk dari Amerika Serikat, Australia, dan Kanada.
Awalnya, perusahaan berencana membangun portofolio pasokan gas jangka panjang Singapura tahun ini.
Namun strategi tersebut berubah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari memicu gangguan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan LNG global.
Sejak konflik pecah, Singapore GasCo juga menangani kebutuhan LNG jangka pendek Singapura dengan membeli tambahan kargo spot guna menjaga keamanan pasokan energi domestik.
Perang Iran mendorong sejumlah negara berburu pasokan LNG spot, beralih ke sumber energi lain seperti batu bara, hingga menerapkan pembatasan bahan bakar untuk mengatasi potensi kekurangan energi.
Singapura sendiri sangat bergantung pada gas alam untuk hampir seluruh pembangkit listriknya.
Tahun lalu, lebih dari 40% impor LNG negara itu berasal dari Qatar. Pada Maret lalu, pemerintah Singapura telah memperingatkan potensi kenaikan harga listrik akibat terganggunya pasokan energi karena konflik tersebut.
“Kami telah mengamankan LNG yang cukup untuk mengatasi pengurangan pasokan yang kami lihat dari Timur Tengah,” ujar Heng.
Ke depan, Singapore GasCo menargetkan pengadaan hingga 4 juta ton LNG per tahun pada 2032.
Volume finalnya akan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk ketersediaan gas pipa, pembangunan pembangkit listrik baru, dan pertumbuhan permintaan energi. (DK)