Pembicaraan damai masih berlangsung, AS lancarkan serangan ke Iran
Selasa, 26 Mei 2026
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat melancarkan serangan yang disebut sebagai aksi “membela diri” terhadap lokasi rudal di Iran selatan dan kapal-kapal yang diduga tengah menanam ranjau pada Senin (26/5), di tengah berlangsungnya pembicaraan damai antara Washington dan Teheran.
Seperti dikutip cna, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman yang berasal dari militer Iran.
Target operasi mencakup lokasi peluncuran rudal dan kapal yang mencoba menempatkan ranjau di wilayah perairan strategis.
Serangan itu terjadi saat negosiator senior Iran tiba di Doha, Qatar, untuk melanjutkan perundingan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Timur Tengah.
Pada saat yang sama, Israel juga meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan beberapa ledakan keras terdengar di sekitar Bandar Abbas sekitar tengah malam waktu setempat.
Namun otoritas lokal menyebut kondisi di kota pelabuhan tersebut tetap normal dan penyebab ledakan masih diselidiki.
Aksi militer AS tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku sejak 8 April.
Konflik Iran-AS sebelumnya telah mengganggu pasokan energi global akibat hambatan pelayaran di Selat Hormuz.
Harga minyak bergerak fluktuatif setelah serangan itu. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat turun lebih dari 5%, sementara Brent masih mencatat kenaikan terbatas.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran masih terbuka meskipun ketegangan kembali meningkat.
“Ada pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita lihat apakah bisa ada kemajuan. Masih banyak pembahasan mengenai rincian dokumen awal,” ujar Rubio saat kunjungan ke India.
Presiden AS Donald Trump juga kembali menegaskan keinginannya agar Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada AS untuk dimusnahkan atau dihancurkan di bawah pengawasan internasional.
Di sisi lain, harapan tercapainya kesepakatan damai kembali terganggu setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan “menghancurkan” Hizbullah di Lebanon.
Iran menuntut agar kesepakatan damai juga mencakup penghentian konflik di Lebanon. (DK)